Farmasi Unpad–BPOM Siapkan Terobosan Nasional: Suplemen Herbal Berbasis Sacha Inchi untuk Dukung Penurunan Stunting
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (FFUP) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan suplemen herbal berbasis sacha inchi untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting. Sacha inchi merupakan komoditas pangan kaya omega-3 yang dinilai memiliki potensi besar sebagai solusi kesehatan nasional sekaligus komoditas unggulan Indonesia.
Kolaborasi tersebut mengemuka dalam diskusi pengembangan riset dan hilirisasi produk yang melibatkan pimpinan Fakultas Farmasi Unpad, peneliti multidisiplin, serta jajaran BPOM. Pertemuan ini tidak hanya membahas riset akademik, tetapi juga roadmap menuju produk herbal terstandar yang ditargetkan dapat masuk tahap uji praklinik hingga klinik.
BPOM Dorong Kolaborasi Nasional
Dalam sambutannya, Inspektur Utama Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Yan Setiadi, Ak., M.B.A., menegaskan komitmen BPOM untuk membawa kerja sama ini ke tingkat nasional, tidak terbatas pada Balai Besar POM di Bandung saja.
"Kita ingin kerja sama Farmasi Unpad dengan Badan POM ini secara nasional. Kita ingin membuktikan bahwa kolaborasi ini menghasilkan milestone nyata, bukan sekadar seremonial," ungkap Yan Setiadi dalam pertemuan tersebut.
BPOM juga menilai pengembangan sacha inchi memiliki potensi ekonomi dan kesehatan yang sangat besar bagi Indonesia. Tanaman tersebut dinilai mampu menjadi alternatif sumber omega-3 yang lebih mudah dibudidayakan di dalam negeri dibandingkan ketergantungan pada bahan impor.
"Kita ingin mendapatkan omega-3 dari produk yang tumbuh subur di negeri sendiri. Ini punya potensi sangat besar dan bisa memberi kontribusi nyata bagi masyarakat serta negara," ujar Yan Setiadi.
Riset Multiyears untuk Produk Herbal Terstandar
Sementara itu, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. apt. Auliya A. Suwantika, Ph.D., menjelaskan bahwa riset pengembangan sacha inchi merupakan bagian dari program riset penugasan universitas yang bersifat multiyears dengan fokus utama pada pengembangan produk herbal untuk mendukung penanganan stunting.
Menurutnya, penelitian dilakukan secara bertahap mulai dari penyediaan bahan baku berkualitas, ekstraksi minyak sacha inchi, standardisasi, formulasi sediaan herbal, hingga target uji praklinik dan klinik.
"Kami sangat optimistis. Dengan dukungan dan arahan dari BPOM, riset ini diharapkan menghasilkan produk yang benar-benar berdampak bagi masyarakat," ungkapnya.
Tak tanggung-tanggung, Unpad mengerahkan 18 judul riset multidisiplin yang melibatkan bidang farmakologi, fitokimia, bioteknologi, teknologi farmasi, kebijakan publik, hingga aspek klinis.
Potensi Hilirisasi dan Dampak Kesehatan Masyarakat
Selain fokus pada dukungan penanganan stunting, para peneliti juga mulai mengeksplorasi pengembangan turunan produk lain berbasis sacha inchi, termasuk kosmetik, lotion, sabun, hingga produk kesehatan lainnya yang berpotensi untuk dihilirisasi ke industri.
Ke depan, kolaborasi ini ditargetkan menghasilkan produk herbal berbasis bahan alam Indonesia yang terstandar, aman, dan memiliki nilai ilmiah kuat sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Lebih dari itu, kerja sama ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem riset nasional, mempercepat hilirisasi hasil penelitian kampus, serta membuka peluang kemitraan industri dan investasi sektor kesehatan berbasis biodiversitas lokal.
Dari sisi kesehatan masyarakat, inovasi ini diharapkan menjadi salah satu alternatif intervensi berbasis pangan dan herbal untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting di Indonesia. Pendekatan tersebut dinilai strategis karena menggabungkan riset akademik, dukungan regulator, dan potensi sumber daya hayati lokal dalam satu ekosistem kolaboratif.
Author: (Winda Eka Putri)
