Back
PMB Fakultas Farmasi Unpad 2026 Dorong Kemandirian Farmasi Nasional - FFUP News
Berita Akademik PMB Fakultas Farmasi Unpad 2026 Dorong Kemandirian Farmasi Nasional

PMB Fakultas Farmasi Unpad 2026 Dorong Kemandirian Farmasi Nasional

Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) menyambut 658 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 melalui rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) yang berlangsung pada 13–14 Agustus 2026. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, dan industri dalam mendukung kemandirian farmasi nasional.

Rangkaian PMB yang berlangsung di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad dan Auditorium Fakultas Farmasi Unpad tersebut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan sektor kesehatan dan farmasi nasional, antara lain Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Lucia Rizka Andalusia, Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Wenny Indriasari, serta Direktur PT Cosmax Indonesia Cheong Minkyung.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menegaskan bahwa pendidikan kefarmasian tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan industri, perkembangan teknologi, regulasi, dan agenda kemandirian kesehatan nasional.

AI dan Transformasi Ilmu Farmasi
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar menyampaikan materi kuliah umum
Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memaparkan materi kuliah umum dalam rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad, Kamis (13/8/2026).

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memaparkan materi kuliah umum dalam rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad, Kamis (13/8/2026).

Dalam kuliah umum pada 13 Agustus, Taruna menyoroti perubahan lanskap ilmu farmasi seiring perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan precise medicine. Menurut Taruna, perkembangan teknologi mendorong pergeseran dari pendekatan pengobatan konvensional menuju terapi yang lebih presisi, termasuk pemanfaatan produk biologi dan terapi berbasis sel hidup.

“Artificial Intelligence menjadi sesuatu yang sangat nyata sekarang dan pemanfaatannya adalah sebuah kebutuhan,” ujar Taruna.

Ia mencontohkan perkembangan terapi CAR T-cell untuk kanker darah sebagai salah satu bentuk kemajuan terapi berbasis teknologi. Perkembangan tersebut, menurutnya, membuka peluang baru bagi lulusan farmasi seiring meningkatnya kebutuhan akan kompetensi yang menggabungkan ilmu kefarmasian, teknologi, dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Taruna juga mendorong mahasiswa baru untuk memandang pendidikan farmasi sebagai bekal dalam menghadapi perkembangan sektor kesehatan di masa depan.

“Jangan takut masuk fakultas farmasi, apalagi Fakultas Farmasi Unpad yang terbaik tiga besar di Indonesia. Peluang kerja dan masa depannya luar biasa,” katanya.

Ketergantungan Bahan Baku Masih Menjadi Tantangan
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Wenny Indriasari menyampaikan materi kuliah umum
Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI apt. Wenny Indriasari, M.Si., menyampaikan materi kuliah umum dalam rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad, Jumat (14/8/2026).

Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI apt. Wenny Indriasari, M.Si., menyampaikan materi kuliah umum dalam rangkaian PMB Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Tahun Akademik 2026/2027, Jumat (14/8/2026).

Pada hari berikutnya, Wenny memaparkan tantangan Indonesia dalam membangun ketahanan dan kemandirian farmasi nasional.

Dalam paparannya, Wenny menyebut belanja kesehatan Indonesia mencapai Rp628 triliun pada 2024, sementara ketergantungan terhadap bahan baku obat impor masih berada pada kisaran 90 persen.

Pemerintah, kata Wenny, mendorong hilirisasi 34 bahan baku obat. Dari jumlah tersebut, 10 bahan baku telah difasilitasi melalui skema change source, sementara capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk bahan baku lokal berada pada kisaran 53–67,94 persen.

Indonesia juga memiliki potensi bahan alam yang besar sebagai modal pengembangan produk farmasi. Potensi ini didukung oleh kekayaan biodiversitas dan sumber daya hayati Indonesia.

“Ketahanan farmasi nasional membutuhkan penguatan produksi dalam negeri, hilirisasi, serta kolaborasi lintas sektor untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor dan mewujudkan kemandirian farmasi Indonesia,” ujar Wenny.

Perguruan Tinggi dan Industri Dorong Inovasi Produk Kecantikan
Direktur PT Cosmax Indonesia Dr. Cheong Minkyung menyampaikan materi kuliah umum
Direktur PT Cosmax Indonesia Dr. Cheong Minkyung menyampaikan materi kuliah umum kepada mahasiswa Fakultas Farmasi Unpad dalam rangkaian PMB Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (13/8/2026).

Direktur PT Cosmax Indonesia Dr. Cheong Minkyung menyampaikan materi kuliah umum kepada mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran dalam rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (13/8/2026).

Cheong menyampaikan perspektif industri. Menurutnya, Indonesia berpeluang berkembang dari pasar konsumen menjadi salah satu pusat inovasi produk kecantikan yang berdaya saing global.

Melalui pendekatan The Java-Coffee Model, Cheong mendorong pemanfaatan bahan aktif berbasis botani lokal, antara lain Teh Arum Green Java, untuk dikembangkan menjadi premium standardized botanical ingredient.

Menurut Cheong, Indonesia memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan industri kecantikan, mulai dari pasar domestik yang besar, kekayaan biodiversitas, budaya, merek lokal, hingga ekosistem digital.

Namun, potensi tersebut perlu diperkuat melalui riset, pengembangan formulasi dan bahan lokal, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Ketahanan farmasi nasional membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, serta sumber daya manusia yang kompeten dan inovatif untuk mendukung kemandirian farmasi Indonesia,” kata Cheong.

Mendorong Produksi Produk Farmasi di Dalam Negeri
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menyampaikan materi kuliah umum
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., MARS., memaparkan materi kuliah umum dalam rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad, Jumat (14/8/2026).

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr. Dra. Lucia Rizka Andalusia, Apt., M.Pharm., MARS., memaparkan materi kuliah umum dalam rangkaian Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Unpad, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, Rizka membahas peran apoteker dalam mendukung sistem kesehatan nasional, mulai dari edukasi kesehatan masyarakat hingga pengembangan dan produksi obat dalam negeri.

Ia menyampaikan bahwa Indonesia telah mampu memproduksi sejumlah produk biologis, termasuk insulin dan eritropoetin. Pemerintah juga menargetkan kemandirian produk darah seperti albumin dan imunoglobulin pada 2027.

Dalam pengembangan bahan baku obat, sebanyak 34 bahan baku tengah dan akan diproduksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya telah digunakan industri farmasi untuk memproduksi obat jadi.

Jika seluruh 34 bahan baku tersebut dapat dimanfaatkan industri, ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor diproyeksikan turun dari sekitar 95 persen menjadi 75 persen.

“Kesehatan untuk semua, untuk setiap penduduk, baik yang kaya maupun yang miskin,” ujar Rizka.

658 Mahasiswa Baru dari Tujuh Program Studi
Dekan Fakultas Farmasi Unpad Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika menyampaikan sambutan
Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika, Ph.D., menyampaikan sambutan dalam rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad, Kamis (13/8/2026).

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Prof. apt. Auliya Abdurrohim Suwantika, Ph.D., menyampaikan sambutan dalam rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Fakultas Farmasi Unpad, Kamis (13/8/2026).

Rangkaian PMB Fakultas Farmasi Unpad 2026 diikuti 658 mahasiswa baru dari tujuh program studi. Jumlah tersebut terdiri atas 288 mahasiswa Program Sarjana Farmasi, 64 mahasiswa Program Sarjana Rekayasa Kosmetik, 201 mahasiswa Program Profesi Apoteker, 5 mahasiswa Program Spesialis Farmasi Nuklir, 51 mahasiswa Program Magister Farmasi, 11 mahasiswa Program Magister Farmasi Klinik, dan 38 mahasiswa Program Doktor Farmasi.

Dekan Fakultas Farmasi Unpad Auliya Abdurrohim Suwantika mengatakan bahwa mahasiswa baru perlu memanfaatkan masa studi bukan hanya untuk memperoleh gelar, tetapi juga untuk membangun kompetensi, jejaring, dan kontribusi.

“Jangan hanya datang ke Fakultas Farmasi Unpad untuk mendapatkan gelar, tetapi datanglah untuk belajar, bertumbuh, berinovasi, berkolaborasi, membangun jejaring, dan menciptakan dampak,” ujar Auliya.

Fakultas Farmasi Unpad saat ini didukung oleh 72 dosen, dengan lebih dari 95 persen di antaranya bergelar doktor dan sekitar 40 persen telah menyandang jabatan profesor. Fakultas juga tercatat dalam QS World University Rankings by Subject dan memiliki akreditasi unggul tingkat nasional serta akreditasi internasional.

Kepada mahasiswa baru jenjang profesi, spesialis, magister, dan doktor, Auliya menekankan tiga semangat, yaitu pursue excellence, create meaningful research, dan create impact.

“The true value of knowledge is not only in what we discover, but in the difference our discoveries make,” ujar Auliya.

Melalui rangkaian PMB ini, Fakultas Farmasi Unpad menempatkan pendidikan, riset, dan kolaborasi lintas sektor sebagai bagian dari upaya mempersiapkan sumber daya manusia kefarmasian yang mampu berkontribusi pada penguatan sistem kesehatan dan kemandirian farmasi Indonesia.

(Reporter: D. C. E.)