Sharing Pengalaman Beasiswa, Kuliah S2 dan S3 Mahasiswa Farmasi di Polandia dan Belanda

Jumat, 16 Oktober 2020 kemarin, telah diadakan Webinar dalam bentuk Talkhow  dengan tema, “Study Abroad Talk! Why and How?”. Webinar yang diadakan oleh International Unit Pharmacy Unpad bekerja sama dengan farmasetika sebagai media partner ini berjalan lancer. Mesikipun pendaftaran  dibuka 3 hari sebelum acara dimulai,  webiar yang  lebih  concern  ke arah sharing session dengan para narasumber yang tengah kuliah di luar negri ini dapat menarik peserta  yang cukup banyak.

Webinar dipandu oleh Maryam Hasymia I sebagai moderator yang merupakan mahasiswa semester 7 Fakultas Farmasi Unpad.  Sambutan yang diberikan oleh Chief of Intenerational Unit, apt. nasrul Wathoni, Ph.D  menjelaskan bahwa ini adalah volume1 dari Shairng session ini, artinya aka nada volume selanjutnya. Harapannya hal ini dapat memberikan wawasan yang lebih kepada seluruh pemuda Indonesia tentang bagaimana belajar di luar negri, bersaing secara global, dan menjadi pemuda ang mampu berkontribusi bagi bangsa.

Dibuka dengan pengenalan dan gambaran kuliah di luar negro dari kedua narasumber, yakni apt. Doni Dermawan, S.Farm yang merupakan Master candidate of Warsaw University of Technology, di Polandia dan apt. R.Maya Febriyanti, M.Farn yang merupaka Doctor candidate of Leiden University, Belanda.

Selanjutnya sesi talkshow yang dipandu oleh moderator dimulai dari pertanyaan tentang  alasan di luar negri, perjuangan yang dilalui para narasumber, tips dan trik aagar lulus kuliah di luar begri, hingga pesan yang kedua narasumber tersebut sampaikan kepada seluruh peserta. Bagi kamu yang belum sempat mengikuti webinar kemarin, tenang saja, karena webinar kemarin bisa dilihat di  Youtube. Jangan lupa untuk mengikuti akunInstagram international unit dari farmasi unpad agar tidak tertinggal informasi sharing session volume selanjutnya !

Youtube

Seminggu sejak publikasi di media sosial, webinar yang diadakan oleh International office Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran beserta IAI dan bekerja sama dengan Universiti Sains Malaysia, Kemenkes RI, BPOM, PUI Inovasi Pelayanan Kefarmasian UNPAD, dan  Majalah Farmasetika akhirnya telah dilaksanakan hari ini (22/07).

                Webinar berlangsung melalui platform Zoom dan Youtube  tepat pukul 09.00 WIB. Acara dibuka dan dibawakan langsung  oleh Ketua International Ofice FFUP, apt. Nasrul Wathoni, Ph.D

                “Semoga webinar kita kali ini dapat memberikan manfaat bagi Indonesia” ujar Pak Nasrul ketika briefing dengan Upgraders Intenational Office Unpad

                Acara dilanjutkan oleh moderator yang juga merupakan Dekan FFUP, Prof. Dr. Apt. Ajeng Diantini yang kemudian mengatur jalannya pemterian dan sesi diskusi setelahnya. Di bawah ini sekilas penjelasan para narasumber dalam webinar kali ini:

Peranan apoteker di Masa Pandemi COVID-19: Pengalaman di Malaysia oleh Prof. Dr. Syed Azhar Syed Sulaiman

Prof. Dr. Syed. Azhar Syed Sulaiman menjelaskan peranan Apoteker di Masa Pandemi COVID-19 di  Malaysia. Peran Apoteker sangat besar dalam menangani pasien dalam pandemi ini mulai dari menata pelaksanaan penggunaan antivirus, konseling kepada tenaga kesehatan dan pasien, melayani informasi obat, memastikan pasokan obat yang tepat untuk masyarakat dan negara,  sebagai public health educator, membagikan informasi tentang pencegahan dan penanganan COVID-19. Kasus pertama di Malaysia dideteksi pada bulan Januari 2020 dari seorang traveler dari China yang melewati Singapore. Peran farmasis selama pandemic ini yaitu berhubungan dengan terapi baru untuk membantu pasien dalam mengambil keputusan pengobatan, menjaga ketersediaan obat lain selama pandemic serta bekerja Bersama tenaga kesehatan lain, pasien serta masyarakat karena farmasis merupakan bagian penting dalam mitigasi pandemi. Salah satu peran farmasis yaitu sebagai penyedia konseling untuk tenaga kesehatan lain serta pasien dengan menjamin penggunaan obat serta penggunaan dosis yang sesuai dan memperhatikan potensi interaksi obat serta komplikasi lain yang mungkin timbul dari terapi yang digunakan. Farmasis harus bekerja secara proaktif dalam menjamin ketersediaan obat untuk komunitas dan negaranya.

Malaysia menerapkan beberapa larangan seperti pelarangan perkumpulan massa termasuk untuk acara keagamaan, olahraga, dan aktivitas sosial lainnya. Warga negara Malaysia yang kembali dari luar negeri diwajibkan menjalani karantina selama 14 hari. Turis dan warga negara asing dilarang masuk. Sekolah dan Universitas juga ditutup.

Obat Remdesivir telah diujicobakan ke pasien dari Sungai Buloh Hospital untuk mengetahui efektivitasnya. Uji coba ini dilakukan dibawah WHO dan akan melibatkan sekitar 100 orang. Faktor resiko menurut CDC China yaitu lansia memiliki fatality yang lebih tinggi, pria memiliki fatality yang lebih tinggi juga. Klasifikasi keparahan COVID-19 yaitu asimptomatis, simptmatis tanpa pneumonia, pneumonia tanpa kebutuhan oksigen, pneumonia dengan kebutuhan oksigen dan sangat parah. Tipe obat yang telah diuji sebagai pengobatan COVID-19 yakni Kaletra 2 tab BD, Chloroquine 500mg BD, Hydroxychloroquine 200mg BD, Interferon beta-1b 250 microgram, Ribavarin, Favipiravir (Avigan) dan Remdesivir. Untuk memonitor pasien, rRT-PCR dilakukan setiap 72 jam sampai mingguan. Apabila sudah negatif, maka dilakukan pengujian lagi 24 jam. Apabila 2 kali hasil negatif maka pasien diizinkan pulang dan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Intervensi Farmasi untuk Penangan Pasien COVID-19 oleh apt. Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., MM

Pihak Pelayanan Kefarmasian Kemenkes RI terus melakukan perbandingan  dengan apa yang terjadi pada China, Malaysia, dan negara lainnya untuk megatasi hambatan yang Indonesia hadapi. Dimana hal ini harus disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia karena Indonesia merupakan negara dengan keberagaman tinggi, sehingga jika Kemenkes mengambil sesuatu kebijakan harus bisa diimplementasikan ke seluruh masyarakat Indonesia. Kebutuhan pada saat COVID 19 menyebar menjadi sangat tinggi baik pada obat, alat kesehatan, APD, desinfektan, reagen, dsb.

Dalam hal ini, sempat terjadi kekosongan dalam pemenuhan alat-alat medis karena adanya chaos dari masyarakat dan kurangnya pengetahuan, serta bahan baku impor untuk pembuatan alat tersebut terhambat karena lockdown. Bisa dilihat dari masalah yang terjadi bahwa peran farmasi dalam penanggulangan COVID ini sangat besar karena merupakan sebuah dorongan dalam sektor farmasi untuk berkembang secara cepat dan inovatif.

Peranan sebagai farmasis tentunya adalah harus memenuhi dalam obat-obatan, namun karena obat yang dibutuhkan harus dikaji, maka pelayanan farmasi posisinya jauh lebih memungkinkan. Yang akan dibahas kali ini adalah bagaimana masyarakat dapat mendapatkan akses kesehatan yang baik selama COVID 19 ini. Peran apoteker dalam penanggulangan COVID ini merupakan tatakelola obay yaitu dimulai dari pemilihan, perencanaan, pembiayaan, pengadaan, distribusi, penggunaan, monitoring, dan evaluasi.

Dalam pemilihan obat untuk COVID 19 ini, Indonesia menerapkan protokol yang disusun oleh organisasi profesi (PDPI, PAPDI, PERDATIN, IDAI) yang mengacu pada formularium nasional dan standar pelayanan kefarmasian. Pada saat ini, obat yang digunakan dalam menangani COVID 19 ini adalah oseltamivir, namun jika persediaannya habis, digunakan favipiravir. Kemudian ditambah dengan obat yang bersifat comorbid, tergantung oleh penyakit bawaan yang diidap oleh pasien. Sebetulnya, obat-obat ini belum bisa dikatakan sebagai terapi COVID 19 karena masih dalam proses penelitian, namun karena adanya urgensi yang ada, sudah ada yang menggunakan obat-obat ini. Dan juga pemerintah memfasilitasi penggunaan obat-obat ini meskipun  belum mempunyai izin edar. Dalam pendistribusian obat ke seluruh Indonesia juga kemenkes melakukan kerjasama dengan kementerian perhubungan sehingga meskipun adanya PSBB distribusi obat tidak terhambat.

Kemudian ada beberapa langkah-langkah yang telah dan terus dilakukan, yaitu: Konsolidasi rencana kebutuhan & pendanaan, Revitalisasi Dukungan Instalasi Farmasi di Provinsi dan Kab/Kota, Konsolidasi Lintas Kementerian/Lembaga, industri farmasi, & kerjasama internasional, Implementasi sistem informasi logistik Covid-19. Indonesia juga berpartisipasi dalam Solidarity CT for Covid-19 Treatments yang merupakan Merupakan uji klinik multisenter yang melibatkan 23 RS (data hingga 19 Mei 2020, uji klinik telah mulai berjalan di 13 RS dengan 115 pasien). Dalam melayani masyarakat, diterapkan Telemedicine dengan berdasar surat edaran NOMOR HK.02.01/MENKES/303/2020 yaitu Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Edukasi kepada masyarakat harus tetap diberikan dalam bentuk infografis dan hal-hal yang bisa dikomunikasikan lewat internet. Pelayanan resep, pelayanan informasi obat, konseling dan pelayanan farmasi klinis lain dilakukan secara daring. Jika tidak memungkinkan pelayanan secara daring, pelayanan secara manual dilaksanakan dengan memperhatikan kewaspadaan standar (kebersihan tangan dan penggunaan APD, menggunakan pembatas mika/kaca antara petugas dengan pasien) serta menerapkan physical distancing (mengatur jarak aman antar pasien di ruang tunggu, mengurangi jumlah dan waktu antrian).

Pentingnya Uji Klinik untuk Keberhasilan Pengobatan COVID-19 oleh Dr. apt. L. Rizka Andalucia, M.Pharm, MARS

Tidak ada satupun wilayah yang tidak terkena imbas dari adanya Covid-19, mulai dari terganggunya kegiatan ekonomi hingga aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, researchers berlomba-lomba untuk menemukan anticovid-19 atau obat terapi Covid-19. Namun, terdapat 1 tahapan yang harus dilakukan sebelum dapat menemukan obat tersebut, yaitu uji klinik untuk membuktikan bahwa obat memiliki respon terhadap Covid-19. Beberapa negara mendapat akses obat baru dari uji klinik. Penemuan suatu obat tidak hanya dibuktikan melalui testimoni, tetapi harus ada evidence yang terstruktur. Jika hal tersebut tidak dapat dibuktikan, maka klaim obat tidak bisa dikatakan menyembuhkan. Salah satu pentingnya uji klinik adalah seperti obat yang sempat booming untuk terapi Covid-19 adalah Dexamethasone. Setelah melalui uji klinik, Dexamethasone yang digunakan pada pasien mild hingga moderate terbukti memperburuk kondisi.

WHO selalu update terkait kandidat vaksin. Saat ini, terdapat 142 kandidat dan juga 24 kandidat. Namun, 24 kandidat lebih diperhatikan karena sudah mencapai tahap uji klinik. Salah satu uji klinik vaksin pun akan dilaksanakan di Unpad bersama Bio-Farma (Sinovac) yang sudah berada pada tahap uji klinik 3. Adapun 2 kandidat lain vaksin Covid-19 uji klinik dan transfer teknologi berkolaborasi dengan IF nasional, yaitu BCHT (Sinopharm) dan Kalbe Farma (Genexine). 

Uji Klinik Terapi COVID-19 Terkini di Indonesia oleh Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si

Uji klinik dilakukan pada terapi farmakologi serta terhadap senyawa yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Menjaga imunitas tubuh menjadi salah satu prinsip protokol kesehatan pada GERMAS COVID-19. Hal ini menyebabkan herbal di Indonesia sudah dilakukan uji klinik untuk imunomodulator.

Pada Konsorsium Nasional Multicenter Clinical Trial Indonesia, dilakukan uji klinik yang sudah ada di pasaran (sudah diproduksi dan sudah ada izin edar) karena masalah waktu dan pasien yang tidak bisa menunggu. Beberapa yang melalui uji klinik pada konsorsium pertama di antaranya ada covalescene serum, OST-D, minuman teh jahe, minuman teh sereh, jamu herbal imunogama, wedang uwuh celup, susu fermentasi LOWKOL, imboost flu herbal, MediTea, Imunocov, suplemen jambu biji, uji klinis remdesivir, plama anticovid, mesenchymal stem cell, seed vaccine Covid-19, dan Fatigon promuno. Selain itu, ada potensi dari Quinine Sulfate dibandingkan klorokuin dan hidrosiklorokuin dalam menghambat aktivitas SARS-CoV-2 secara in vitro. Hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena ini merupakan bahan alam dari Indonesia. Kemudian di (Konsorsium IAI, dilakukan uji klinis pada Soman2, OB Herbal, VipAlbumin, dan TehDia.

Pada Konsorsium Kedua, terdapat 19 penelitian uji klinis terhadap senyawa-senyawa yang juga berpotensi, seperti kina, eukaliptus, sel punca, plasma kovalesen, adjuvant terapi dari N-asetilsistein, theaflavin-3-O-gallate, jamu anti covid, nanokurkumin, dll. Selain itu, ada juga uji klinik yang dilakukan secara mandiri yaitu uji klinik terhadap Health Tone Oil. Terakhir, Unpad bersama biofarma melakukan uji klinik fase tiga untuk vaksin dengan merk Sinovac dari Cina.

Webinar ini diadakan secara gratis dan terkumpul total delapan grup Whatsapp dari seluruh Indonesia untuk mengumpulkan seluruh peserta. Tidak hanya sampai di situ, webinar kali ini  juga memberikan sertifikat gratis bagi pesertanya non-maupun SKP maupun SKP dimana sertifikat SKP akan didapat setelah mengerjakan soal dan memenuhi standar tertentu).

                Sesi diskusi dan pematerian ditutup oleh , Prof. Dr. Apt. Ajeng Diantini, “Semoga Pandemi bisa segera selesai, covid-19 bisa ditemukan segera obatnya karena mortalitiy cukup banyak dan transmisi cukup tinggi. Dan ditunggu perannya kita sebagai apoteker  dalam mengatasi Covid-19 ini, Mohon maaf atas segala kekurannya dan Terima kasih banyak”