(Bahasa) Sistem Pencegah Obat Merugikan

Keluarga, teman, atau Anda sendiri mungkin pernah mengalami reaksi obat yang merugikan. Reaksi obat merugikan (ROM), atau dalam dunia kedokteran biasa dikenal dengan adverse drug reaction, adalah reaksi atau bahaya yang terjadi akibat pemakaian obat.

Di Amerika Serikat, ratusan ribu orang menderita di rumah sakit atau meninggal akibat ROM. Penyebabnya bisa beragam. Dari kesalahan penulisan resep, salah membaca resep karena tulisan tidak jelas, salah penyiapan dan penyerahan resep oleh petugas farmasi, sampai kesalahan dalam mengkonsumsi obat.

Sebagai orang yang berlatar belakang apoteker, Irma Melyani Puspitasari paham betul akan hal itu. Saat bekerja sebagai apoteker beberapa tahun lalu, ia pernah menerima komplain pasien soal obat yang mereka terima. “Biasanya karena kesalahan membaca resep,” ujar wanita 31 tahun ini yang sekarang bekerja sebagai dosen bidang ilmu farmakologi dan farmasi klinik Fakultas Farmasi Unpad.

Di Indonesia, resep obat pada umumnya masih dibuat dengan tulisan tangan dokter. Karena masih dengan tulisan tangan inilah sering kali terjadi salah baca oleh apoteker. “Tulisan tangan dokter kan sering tidak jelas terbaca,” kata Irma kepada iTempo, Senin lalu.

Akibatnya, antara nama obat yang diresepkan dan yang diberikan kepada pasien sering terbalik, sehingga obat jadi berbeda. “Atau salah baca satu huruf saja, obat yang diberikan bisa berlainan kegunaannya.” Akibatnya, seharusnya diberi obat diabetes, yang diberikan malah obat saluran pencernaan. Lebih parah lagi jika alamat atau nomor kontak di resep juga tidak jelas terbaca. “kalau terjadi kesalahan jadi tidak bisa dilacak,” ujarnya.

Kesalahan-kesalahan seperti itu seharusnya bisa dicegah. Salah satunya melalui cara komputerisasi resep dokter. Hal itulah yang mendorong Irma menciptakan Resep Elektronik, yakni layanan kesehatan yang berbasis sistem elektronik (e-health) dengan pendeteksi reaksi obat merugikan untuk rekam medik elektronik di puskesmas.

Di Negeri Abang Sam, pembuatan resep dan arsip medik secara elektronik sudah biasa dilakukan. “Di sini belum seperti itu,” kata Irma, yang kini mengajar ilmu anatomi fisiologi manusia di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sistem peranti lunak ini sejatinya merupakan proyek tesisnya di Program Teknik Biomedika di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung. Setelah menggondol gelar magister teknik, April 2010, karyanya ini diikutkan dalam kompetisi Indonesia ICT Award (INAICTA) 2010.

Sebagai bagian dari proyek tesisnya, peranti lunak ciptaannya telah diterapkan di Puskesmas Babakan Sari, Bandung, sejak Maret lalu. Setelah beberapa bulan diterapkan, sistem ini ternyata membawa manfaat dan sangat membantu para petugas di sana. Antara lain untuk membuat laporan obat masuk dan keluar, reaksi obat merugikan, serta laporan harian dan laporan pemeriksaan per dokter. Rekam medis pasien jadi terdata dengan baik.

Resep Elektronik dilengkapi sejumlah fitur, antara lain fitur Pembuatan Kartu Pasien, Pencarian Pasien, Rekam Medik, Pembuatan Resep (baik racikan maupun nonracikan), Kalkulator, serta Tes Interaksi Obat. Kalkulator dalam sistem ini sebenarnya hanya fitur penghitungan sederhana, khususnya untuk menghitung dosis obat. “Dosis untuk anak kecil biasanya pakai koma-komaan, jadi butuh kalkulator,” katanya.

Sedangkan fitur Tes Interaksi Obat untuk menghindari obat-obatan yang kontradiktif dan memiliki efek samping. Terkadang, kata Irma, ada dokter yang memberi obat-obat bertentangan dalam resep. Misalnya, dalam satu resep ada obat menguruskan badan sekaligus obat penggemuk. Atau ada duplikasi obat, yakni dalam resep terdapat obat yang berbeda jenis tapi memiliki manfaat yang sama. “Duplikasi obat ini sering terjadi.”

Sistem buatannya ini bisa diterapkan minimal pada satu komputer dan satu printer. Untuk konfigurasi sedang, setidaknya butuh dua atau tiga komputer atau laptop serta satu printer. Sedangkan konfigurasi penuh membutuhkan enam komputer dalam suatu jaringan local area network (LAN). “Jadi puskesmas dengan satu komputer pun bisa menerapkan, tapi tidak bisa real-time,” kata dia.

Irma berniat mengembangkan Resep Elektronik dengan fitur-fitur yang lebih lengkap. Pengembangan juga tengah dilakukan seorang rekannya, yang sedang menimba ilmu di program pendidikan yang sama, dengan menambah modul-modul lain. Misalnya rekam medik kesehatan ibu dan anak serta penanganan tuberkulosis.

Resep Elektronik memang belum dipakai secara luas. Meski demikian, karya Irma ini meraih gelar juara kedua (Special Mention Winner) untuk kategori e-Government di INAICTA 2010, Juli lalu. Sistem ini juga telah go international karena pernah dipresentasikan di International Conference of e-Health and Telemedicine di Luksemburg, April tahun lalu. (Koran Tempo Edisi 1 Oktober 2010).

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21,
Jatinangor 45363 - Indonesia
Contact Us:
farmasi@unpad.ac.id