Sistem Manajemen Suplai Obat Publik Perlu Ditingkatkan

[Unpad.ac.id, 02/10/2012] Tidak meratanya proses suplai obat-obatan di beberapa wilayah tentunya memengaruhi rasionalitas penggunaan obat tersebut. Hal tersebut salah satunya didukung oleh proses manajemen suplai obat yang belum kuat. Oleh karena itu, perlu upaya untuk menguatkan sistem manajemen suplai obat tersebut.

Bentuk penguatan sistem manajemen tersebut salah satunya dengan melakukan Field Trial di wilayah yang dijadikan sasaran. Menurut Dosen Fakultas Farmasi Unpad, Ivan Surya Pradipta, M.Sc., Apt., Unpad sendiri telah melakukan Assessment bersama-sama dengan ITB, World Health Organization (WHO), dan Kementrian Kesehatan di enam kabupaten di Jawa Barat dan Banten, yakni Kabupaten Lebak, Tangerang, Kota Depok, Bekasi, dan Kepulauan Seribu pada September 2011 lalu. Enam kabupaten ini dipilih berdasarkan kriteria wilayah yang mengalami desentralisasi.

“Hasilnya ditemukan bahwa suplai obat publik (oblik) di enam kabupaten tersebut tidak sama. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh desentralisasi wilayah yang otomatis memiliki sistem dan aturan yang berbeda,” ungkap Iva saat memberikan presentasi di Auditorium Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unpad Jalan Prof. Eyckman No. 38, Selasa (02/10).

Beberapa kendala yang didapat dari hasil uji di 6 lokasi sampel tersebut ialah tidak adanya Standard Operational Procedure (SOP), Sumber Daya Manusia (SDM), serta lemahnya sistem pelaporan dan dokumentasi. Lebih lanjut Ivan mengungkapkan, khusus untuk  Tenaga SDM, kenyataan yang ada di lapangan ialah minimnya tenaga yang berlatar belakang pendidikan Farmasi serta jumlah tenaga yang kurang memenuhi standar kualifikasi. Hal inilah yang menjadi peluang bagi para mahasiswa Profesi Apoteker di Fakultas Farmasi untuk ikut serta dalam melakukan proses manajemen suplai obat tersebut.

Field Trial sendiri akan dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember tahun ini. Diharapkan dapat memperoleh hasil guna menguatkan sistem manajemen suplai obat publik tersebut, yakni penguatan jumlah SDM yang berlatar belakang pendidikan Farmasi, pengembangan SOP yang jelas, evaluasi sistem manajemen suplai setelah diintervensi. serta penguatan sistem pelaporan dan dokumentasi yang menyangkut juga ke perencanaan dan pengadaan.

Bagi perguruan tinggi, kegiatan Field Trial ini diharapkan dapat mengaktualisasikan program Tridharma Perguruan Tinggi, dan Capacity Building di bidang sistem manajemen suplai obat publik. Adapun bagi mahasiswa, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam bidang manajemen suplai obat tersebut melalui training dan praktik di lapangan.

“Satu hal yang paling penting, tentunya harus ada kerja sama yang baik antara mahasiswa, pembimbing (dosen), dengan pengelola obat, agar mampu mewujudkan hal tersebut,” ujar Ivan.

Presentasi dengan judul “Proyek Penguatan Sistem Manajemen Suplai Obat Publik di Indonesia, Studi Field Trial di 3 Kabupaten” ini merupakan bagian dari rangkaian Workshop Sistem Penguatan Manajemen Obat Publik di Indonesia yang digelar oleh Fakultas Farmasi Unpad, Kemenkes, dan WHO pada tanggal 2 sampai 4 Oktober. Turut hadir salah satu perwakilan dari WHO, Dr. Mohammad Shah Jahan. Dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang PPM, Kerja Sama, dan Sumber Daya Manusia Unpad, Dr. med. Setiawan, dr., ini diharapkan dapat memperkuat proses pendidikan dan publikasi ilmiah di Unpad.

“Semoga program presentasi ini dapat berlanjut di tahun-tahun yang akan datang,” harap Dr. Setiawan.*

Laporan oleh: Arief Maulana/mar 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363 - Indonesia Telepon: (022) 7796200 Faksimile: (022) 7796200
Contact Us: farmasi@unpad.ac.id