(Bahasa) Pengembangan Biji Pala (myristicafragrans houtt) sebagai Antihiperglikemik dan Antidislipidemik

BIJI pala, temyata memiliki potensi sebagai obat untuk penyakit diabetes melitus. Penemuan ini menarik, karena secara empiris pada pengobatan tradisional, biji pala belum digunakan sebagai antidiabetes. “Selama ini, biji pala baru digunakan untuk mengobati penyakit, seperti diare, penyakit mulut, dan insomnia. Minyak esensial-nya pun digunakan untuk pemakaian luar rematik,” kata Keri Lestari (41), saat mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Biji Pala (myristicafragrans houtt) sebagai Antihiperglikemik dan Antidislipidemik dengan Efek Agonis Ganda pada Peroxisorne Proliferators-Activated Receptor (PPAR) Studi yang Berkaitan dengan Upaya Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2”, pada Sidang Terbuka Ujian Doktor di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Jln. Dipati Ukur Bandung, Kamis (30/9).

Keri mengatakan, walaupun secara indigenos di Indonesia biji pala tidak dikenal sebagai antidiabetes, penelitian terdahulu menunjukkan adanya potensi biji pala untuk dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi persediaan obat herbal terstandar antidiabetes. Bahkan, biji pala juga bisa menurunkan risiko komplikasi penyakit diabetes melitus tipe dua melalui aktivitasnya, seba- i gai antiinflamasi dan an- Jj tioksidan. “Diharapkan, ekstrak biji pala ini dapat digunakan sebagai obat komplementer dalam penanganan penyakit diabetes melitus, yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurut Keri, berbagai penelitian epidemologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insiden dan prevalensi diabetes melitus dari tahun ke tahun.

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21,
Jatinangor 45363 - Indonesia
Contact Us:
farmasi@unpad.ac.id