(Bahasa) Pemanfaatan Biji Rambutan (Nephelium lappaceum semen) Sebagai Makanan Pangan Tradisional Emping Biji Rambutan dan Obat Herbal yang Berkhasiat Menurunkan Kadar Gula Darah

Nasrul Wathoni, Holis Abdul Holik, Dudi Runadi (2009)

Diversifikasi pangan belum sepenuhnya menjawab atau mengimbangi pertumbuhan penduduk Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan terobosan untuk mengolah hasil sumber alam. Pengolahan tumbuh-tumbuhan/buah-buahan merupakan salah satu cara yang dapat dimanfaatkan, dan yang dapat diolah sebagai sumber makanan baru salah satunya adalah dari biji rambutan. Dalam pengabdian kepada masyarakat ini tim memberikan pengetahuan dan pelatihan pemanfaatan biji rambutan menjadi makanan pangan alternatif emping biji rambutan dan obat herbal yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah kepada masyarakat di daerah Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang. Dalam kegiatan ini tercapai indikator yang diinginkan yaitu masyarakat mengetahui pemanfaatan biji rambutan sebagai pangan alternatif, dan memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam membuat emping biji rambutan dan produk herbal secara sederhana, Akan tetapi indikator terumuskan program  pembinaan berkelanjutan dalam pengolahan biji rambutan tidak dapat terwujud dikarenakan desa setempat bukan merupakan daerah penghasil buah rambutan melainkan buah mangga.

Nasrul Wathoni, Holis Abdul Holik, Dudi Runadi

Diversifikasi pangan belum sepenuhnya menjawab atau mengimbangi pertumbuhan penduduk Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan terobosan untuk mengolah hasil sumber alam. Pengolahan tumbuh-tumbuhan/buah-buahan merupakan salah satu cara yang dapat dimanfaatkan, dan yang dapat diolah sebagai sumber makanan baru salah satunya adalah dari biji rambutan. Dalam pengabdian kepada masyarakat ini tim memberikan pengetahuan dan pelatihan pemanfaatan biji rambutan menjadi makanan pangan alternatif emping biji rambutan dan obat herbal yang berkhasiat menurunkan kadar gula darah kepada masyarakat di daerah Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang. Dalam kegiatan ini tercapai indikator yang diinginkan yaitu masyarakat mengetahui pemanfaatan biji rambutan sebagai pangan alternatif, dan memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam membuat emping biji rambutan dan produk herbal secara sederhana, Akan tetapi indikator terumuskan program  pembinaan berkelanjutan dalam pengolahan biji rambutan tidak dapat terwujud dikarenakan desa setempat bukan merupakan daerah penghasil buah rambutan melainkan buah mangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363 - Indonesia Telepon: (022) 7796200 Faksimile: (022) 7796200
Contact Us: farmasi@unpad.ac.id