Keri Lestari
Penggunaan obat hipoglikemik masih menjadi pilihan utama dalam pengobatan penyakit diabetes melitus, misalnya sulfonylurea yang bekerja menstimulasi sekresi insulin, biguanid (metformin) yang bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukosa dan menurunkan produksi glukosa hepatic, serta thiazolidinidion yang meningkatkan aksi insulin dalam sel terhadap glukosa dan metabolisme lemak, akan tapi obat-obat tersebut tidak menstimulasi produksi insulin atau mentranskripsi gen insulin, sehingga gangguan ketersediaan insulin dapat terjadi.
Asupan glukosa sacara oral akan lebih menstimulasi sekresi insulin daripada asupan glukosa secara intravena dalam jumlah yang sama. Efek ini disebut efek incretin yang diperkirakan berperan dalam 50-70% respon insulin terhadap glukosa. Efek ini terutama disebabkan oleh hormon intestinal yang merangsang pelepasan insulin yaitu Glucose – Dependent Insulinotropic Polypeptide (GIP) dan Glukagon Like Peptide -1 (GLP-1).
Interaksi antara kedua hormon incretin tersebut adalah sebagai berikut :
GIP disekresikan oleh bagian atas usus halus, yang akan berpengaruh pada sekresi hormon GLP-1 yang paling banyak ditemui pada usus halus bagian bawah. Sedikit saja asupan makan yang mudah diadsorpsi usus akan mengaktifkan incretin hormone bagian atas (GIP), sementara asupan sejumlah besar makanan dengan komposisi yang lebih kompleks memerlukan proses pencernaan yang lebih kompleks pula serta akan mengaktifkan GLP-1 (Vilsboll & Holst, 2004).
Pada pasien DM tipe 2, efek incretin ini terganggu atau tidak ada sama sekali, dan diperkirakan berperan pada gangguan sekresi insulin yang diperlukan. Gangguan fungsi incretin diperkirakan dapat menyebabkan hiperglikemia posprandial (Meier & Nauck, 2005)
Hormon glukosa like protein 1 (GLP-1) merupakan faktor pertumbuhan untuk sel b pankreas. GLP-1 merangsang peningkatan masa sel b melalui kontrol indirek glukosa darah dan melalui regulasi proliferasi dan apoptosis sel b pankreas, sehingga meningkatkan biosintesa dan sekresi insulin. Efek GLP-1 pada sel a pankreas adalah menurunkan sekresi glukagon, dan pada otak mengendalikan keinginan untuk makan (apetite), sehingga mengurangi resiko kegemukan pada pasien DM tipe 2 (Meier & Nauck, 2005; Brubaker & Drucker, 2004)
GIP dan GLP-1 dengan cepat didegradasi oleh enzym dipeptidyl peptidase IV (DPP IV), waktu paruh GLP-1 in vivo berkisar antara 1-2 menit. Penggunaan inhibitor dipeptidyl peptidase IV (DPP IV) diperkirakan merupakan harapan terapi potensial untuk DM tipe 2 (Gault et al, 2003; Kiefer & Habener, 1999).
Saat ini terdapat obat baru Dipeptidyl peptidase IV (DPP IV) inhibitor yang bekerja untuk menghambat penguraian hormon glukagon like peptide -1 (GLP-1). Dalam tubuh, GLP-1 yang bekerja menginduksi sekresi dan biosintesa insulin, menurunkan konsentrasi glukagon, dan menstimulasi neogenesis sel b pankreas. Dengan mekanisme kerja ini maka obat baru ini diharapkan dapat meningkatkan sekresi dan biosintesa insulin sehingga secara klinik dapat mencegah timbulnya DM tipe 2 pada penderita gangguan toleransi glukosa dan dapat menjadi obat tambahan pada terapi DM tipe 2 untuk menghambat perburukan DM karena penurunan fungsi sel b pankreas, oleh karenanya homeostasis glukosa darah menjadi lebih baik dan mengurangi resiko komplikasi DM.
Pustaka
Brubaker, PL;, & Drucker, DJ, 2004, Minireview: Glukagon-Like Peptides Regulate Cell Proliferation and Apoptosis in Pancreas, Gut, and Central Nervous System, Endocrinology 146(6):2653-2659
Gault, Victor A et al, 2003, Glucose-dependent insulinotropic polypeptide analogues and their therapeutic potential for their treatment of obesity-diabetes
Kiefer, Timothy James & Habener, Joel Francis, 1999, The Glucagon-Like Peptides, Endocrine Reviews 20(6): 876-913
Meier, Juris J. & Nauck, Michael A, 2005, Glucagon-like peptide 1 (GLP-1) in biology and patology, Diabetes/Metabolism Research and Review 21:91-117
Soegondo, S, Soewondo, P, dan Subekti, I. 2004. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Hlm. 1-4.
Suyono, dkk. 2006. Derajat Keasaman Air Ludah Pada Penderita Diabetes Dalam S.P. Soedarmo, S.A. Prayitno, B. Darmojo, A. Setiawati, B. Setiawan, dan S.S. Zahir : Cermin Dunia Kedokteran No.116. Jakarta : PT. Kalbe Farma Tbk.. Hlm. 36.
Utami, P. dan Lentera, Tim. 2003. Tanaman Obat untuk Mengatasi Diabetes Mellitus. Cetakan ke-1. Jakarta : PT AgroMedia Pustaka. Hlm. 61-62.
Vilsboll, T & Holst, J.J, 2004, Incretins insulin secretion and Type 2 Diabetes Mellitus, Diabetoogia 47:357-366.
* Penulis merupakan “Vice Dean for Academic Affairs” Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.