<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PADI</title>
	<atom:link href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi</link>
	<description>Padjadjaran Drug Information</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 02:00:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
		<item>
		<title>Peran DPP4 Inhibitor terhadap Perbaikan Sekresi Insulin dan Perbaikan Biomarker Resiko Komplikasi pada DM tipe 2</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/peran-dpp4-inhibitor-terhadap-perbaikan-sekresi-insulin-dan-perbaikan-biomarker-resiko-komplikasi-pada-dm-tipe-2/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/peran-dpp4-inhibitor-terhadap-perbaikan-sekresi-insulin-dan-perbaikan-biomarker-resiko-komplikasi-pada-dm-tipe-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 13:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADME]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis Sediaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja Obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Keri Lestari &#160; Penggunaan obat hipoglikemik masih menjadi pilihan utama dalam pengobatan penyakit diabetes melitus, misalnya sulfonylurea yang bekerja menstimulasi sekresi insulin, biguanid (metformin) yang bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukosa dan menurunkan produksi glukosa hepatic, serta thiazolidinidion yang meningkatkan aksi <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/peran-dpp4-inhibitor-terhadap-perbaikan-sekresi-insulin-dan-perbaikan-biomarker-resiko-komplikasi-pada-dm-tipe-2/" class="more" title="Peran DPP4 Inhibitor terhadap Perbaikan Sekresi Insulin dan Perbaikan Biomarker Resiko Komplikasi pada DM tipe 2"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keri Lestari</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penggunaan obat hipoglikemik masih menjadi pilihan utama dalam pengobatan penyakit diabetes melitus, misalnya sulfonylurea yang bekerja menstimulasi sekresi insulin, biguanid (metformin) yang bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukosa dan menurunkan produksi glukosa hepatic, serta thiazolidinidion yang meningkatkan aksi insulin dalam sel terhadap glukosa dan metabolisme lemak, akan tapi obat-obat tersebut tidak menstimulasi produksi insulin atau mentranskripsi gen insulin, sehingga gangguan ketersediaan insulin dapat terjadi.</p>
<p>Asupan glukosa sacara oral akan lebih menstimulasi sekresi insulin daripada asupan glukosa secara intravena dalam jumlah yang sama. Efek ini disebut efek incretin yang diperkirakan berperan dalam 50-70% respon insulin terhadap glukosa. Efek ini terutama disebabkan oleh hormon intestinal yang merangsang pelepasan insulin yaitu <em>Glucose – Dependent Insulinotropic Polypeptide </em>(GIP) dan <em>Glukagon Like Peptide </em>-1 (GLP-1). <em> </em></p>
<p>Interaksi antara kedua hormon incretin tersebut adalah sebagai berikut :</p>
<p>GIP disekresikan oleh bagian atas  usus halus, yang akan berpengaruh pada sekresi hormon GLP-1 yang paling banyak ditemui pada usus halus bagian bawah. Sedikit saja asupan makan yang mudah diadsorpsi usus akan mengaktifkan incretin hormone bagian atas (GIP), sementara asupan sejumlah besar makanan dengan komposisi yang lebih kompleks memerlukan proses pencernaan yang lebih kompleks pula serta akan mengaktifkan GLP-1 (Vilsboll &amp; Holst, 2004).</p>
<p>Pada pasien DM tipe 2, efek incretin ini terganggu atau tidak ada sama sekali, dan diperkirakan berperan pada gangguan sekresi insulin yang diperlukan. Gangguan fungsi incretin diperkirakan dapat menyebabkan hiperglikemia posprandial (Meier &amp; Nauck, 2005)</p>
<p>Hormon <em>glukosa like protein</em> 1 (GLP-1) merupakan faktor pertumbuhan untuk sel b pankreas. GLP-1 merangsang peningkatan masa sel b melalui kontrol indirek glukosa darah dan melalui regulasi proliferasi dan apoptosis sel b pankreas, sehingga meningkatkan biosintesa dan sekresi insulin. Efek GLP-1 pada sel a pankreas adalah menurunkan sekresi glukagon, dan pada otak mengendalikan keinginan untuk makan (<em>apetite</em>), sehingga mengurangi resiko kegemukan pada pasien DM tipe 2 (Meier &amp; Nauck, 2005; Brubaker &amp; Drucker, 2004)</p>
<p>GIP dan GLP-1  dengan cepat didegradasi oleh enzym dipeptidyl peptidase IV (DPP IV), waktu paruh GLP-1 <em>in vivo</em> berkisar antara 1-2 menit.  Penggunaan inhibitor dipeptidyl peptidase IV (DPP IV) diperkirakan merupakan harapan terapi potensial untuk DM tipe 2 (Gault <em>et al</em>, 2003; Kiefer &amp; Habener, 1999).</p>
<p>Saat ini terdapat obat baru Dipeptidyl peptidase IV (DPP IV) inhibitor yang bekerja untuk menghambat penguraian hormon glukagon like peptide -1 (GLP-1). Dalam tubuh, GLP-1 yang bekerja menginduksi sekresi dan biosintesa insulin, menurunkan konsentrasi glukagon, dan menstimulasi neogenesis sel b pankreas. Dengan mekanisme kerja ini maka obat baru ini diharapkan dapat meningkatkan sekresi dan biosintesa  insulin sehingga secara klinik dapat mencegah timbulnya DM tipe 2 pada penderita gangguan toleransi glukosa dan dapat menjadi obat tambahan pada terapi DM tipe 2 untuk menghambat perburukan DM karena penurunan fungsi sel b pankreas, oleh karenanya  homeostasis glukosa darah menjadi lebih baik dan mengurangi resiko komplikasi DM.</p>
<p><strong>Pustaka</strong></p>
<p>Brubaker, PL;, &amp; Drucker, DJ, 2004, Minireview: Glukagon-Like Peptides Regulate Cell Proliferation and Apoptosis in Pancreas, Gut, and Central Nervous System, Endocrinology 146(6):2653-2659</p>
<p>Gault, Victor A <em>et al</em>, 2003, Glucose-dependent insulinotropic polypeptide analogues and their therapeutic potential for their treatment of obesity-diabetes</p>
<p>Kiefer, Timothy James &amp; Habener, Joel Francis, 1999, The Glucagon-Like Peptides, Endocrine Reviews 20(6): 876-913</p>
<p>Meier, Juris J. &amp; Nauck, Michael A, 2005, Glucagon-like peptide 1 (GLP-1) in biology and patology, Diabetes/Metabolism Research and Review 21:91-117</p>
<p>Soegondo, S, Soewondo, P, dan Subekti, I. 2004. <em>Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu</em>. Cetakan ke-4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Hlm. 1-4.</p>
<p>Suyono, dkk. 2006. Derajat Keasaman Air Ludah Pada Penderita Diabetes Dalam<em> </em>S.P. Soedarmo, S.A. Prayitno, B. Darmojo, A. Setiawati, B. Setiawan, dan S.S. Zahir : <em>Cermin Dunia Kedokteran</em> <em>No.116</em>. Jakarta : PT. Kalbe Farma Tbk.. Hlm. 36.</p>
<p>Utami, P. dan Lentera, Tim. 2003. <em>Tanaman Obat untuk Mengatasi Diabetes Mellitus</em>. Cetakan ke-1. Jakarta : PT AgroMedia Pustaka. Hlm. 61-62.</p>
<p>Vilsboll, T &amp; Holst, J.J, 2004, Incretins insulin secretion and Type 2 Diabetes Mellitus, Diabetoogia 47:357-366.</p>
<p>*  Penulis merupakan <strong>&#8220;Vice Dean for Academic Affairs&#8221; Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.<span id="more-423"></span> <span style="color: #0060bf;"></span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/peran-dpp4-inhibitor-terhadap-perbaikan-sekresi-insulin-dan-perbaikan-biomarker-resiko-komplikasi-pada-dm-tipe-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kayu manis, si Dokter Herbal yang Banyak Manfaat</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/kayu-manis-si-dokter-herbal-yang-banyak-manfaat/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/kayu-manis-si-dokter-herbal-yang-banyak-manfaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 09:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Sujatmoko Sentika Taukah Anda? bahwa kayu manis yang umumnya dimanfaatkan atau digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari- hari sebagai bumbu penyedap masakan dan bahan pelengkap dalam pembuatan kue ternyata juga memiliki banyak manfaat baik dalam bidang industri <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/kayu-manis-si-dokter-herbal-yang-banyak-manfaat/" class="more" title="Kayu manis, si Dokter Herbal yang Banyak Manfaat"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>oleh : Sujatmoko Sentika</strong></p>
<p>Taukah Anda? bahwa kayu manis yang umumnya dimanfaatkan atau digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari- hari sebagai bumbu penyedap masakan dan bahan pelengkap dalam pembuatan kue ternyata juga memiliki banyak manfaat baik dalam bidang industri jamu maupun dalam bidang kosmetika.</p>
<p>Disamping hal itu, ternyata kayu manis ini atau nama latinnya <em>Cinnamomum burmani</em> juga memiliki efek farmakologis yang dibutuhkan dalam obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tumbuhan yang kulit, batang, daun, dan akarnya bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan ini berkhasiat sebagai peluruh kentut (carminative), peluruh keringat (diaphoretic), antirematik, meningkatkan napsu makan (istomachica), menghilangkan sakit (analgesik), penambah vitalitas, hingga penurun kolesterol. Kandungan kimia ada terdapat dalam kayu manis adalah minyak atsiri, eugenol, safrole, sinamaldehide, tanin, kalsium oksalat, damar, dan zat penyamak. Sifat kimia dari kayu manis adalah pedas, sedikit manis, hangat, dan wangi.</p>
<p>Menurut pakar obat-obatan herbal, Prof Hembing Wijayakusuma, kayu manis memiliki banyak khasiat obat. Di antaranya, obat asam urat, tekanan darah tinggi (hipertensi), radang lambung atau maag (gastritis), tidak napsu makan, sakit kepala (vertigo), masuk angin, perut kembung, diare, muntah-muntah, hernia, susah buang air besar, sariwan, asma, sakit kuning, dan lain-lain.</p>
<p>Penelitian di Amerika oleh Dr. Joanna Hlebowicz dkk., dimana penemuan ini dipublikasikan dalam “The American Journal of Clinical Nutrition” mengungkapkan bahwa batang kulit kayu manis memiliki kandungan insulin yang akan melancarkan proses metabolisme glukosa, sehingga kadar gula di dalam darah bisa ditekan mendekati normal. Hal ini terbukti dengan penelitian mereka pada 14 orang relawan kesehatan yang gula darahnya diukur sebelum dan sesudah makan semangkok bubur beras; masing-masing relawan diuji setelah makan semangkok bubur beras dan setelah makan makanan mengandung kayu manis. Berdasarkan penemuan Pasca pengujian darah yang diujikan pada para relawan secara berturutan selama dua jam, terbukti bahwa kandungan gula darah relawan menurun setelah mengonsumsi makanan berkayu manis. Penelitian ini sangat cocok bagi masyarakat penderita gula darah tinggi.</p>
<p>Selain itu, kandungan kayu manis ini juga mampu menghadirkan cara yang lebih sederhana dan aman untuk membuat nanopartikel emas. Sebagai informasi, kegunaan nanopartikel emas diketahui sangat bermanfaat untuk mendeteksi tumor, melakukan pencarian minyak, menerangi jalan dan menyembuhkan penyakit. Menurut penelitian, nano partikel emas yang berbahan kayu manis bisa digunakan untuk mengatasi kanker.</p>
<p>Sehingga dalam hal ini, kandungan yang dimiliki oleh kayu manis berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Selain harganya yang ekonomis, kesediaannya pun tidak sulit untuk dijumpai. Dan juga, penggunaan obat herbal sangat aman dikonsumsi dibandingkan obat lainnya yang memiliki efek samping terhadap tubuh.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Di bawah ini adalah beberapa resep obat atau ramuan yang menggunakan kayu manis:</span></p>
<ul>
<li><strong>Sebagai obat asam urat</strong>, sebanyak 1 ibujari kayu manis, 5 gram biji pala, 5 butir kapulaga, 5 butir cengkeh, 200 gram ubi jalar merah, 10 butir merica, 15 gram jahe merah, direbus dengan 1.500 cc air hingga tersisa 500 cc. Ramuan kemudian disaring lalu ditambahkan 200 cc air susu cair dan diminum. Sementara umbinya yang ikut direbus dimakan.</li>
<li><strong>Resep obat asam urat lainnya</strong>, 1 ibu jari kayu manis, 15 gram jahe merah, 5 gram biji pala, 5 butir kapulaga, 5 butir cengkeh, 4 lembar daun sosor bebek, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Air rebusan disaring dan diminum.</li>
<li><strong>Mengatasi tekanan darah tinggi</strong>, 2 jari kayu manis, 10 gram asam trengguli, 10 gram kencur, 15 gram daun sena, dan 20 gram daun saga direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc. Rebusan disaring dan diminum selagi hangat. Resep lainnya, 1 jari kulit kayu manis, 10 gram asam trengguli, 60 gram rambut jagung, dan 30 gram seledri, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Airnya kemudian disaring dan diminum hangat-hangat.</li>
<li><strong>Obat maag</strong>, 10 gram kayu manis direbus dengan 200 cc air hingga tersisa 100 cc, lalu disaring dan diminum selagi hangat. Obat sakit kepala, 10 gram kayu manis, 3 butir cengkeh, 5 gram biji pala, 5 gram merica, 10 gram jahe, ditumbuk hingga menjadi bubuk. Lalu diseduh dengan air secukupnya, disaring, dan diminum secara teratur.</li>
<li><strong>Mengatasi masuk angin dan perut kembung</strong>, 5 gram kayu manis, 10 gram jahe, 5 butir cengkeh, 5 gram pulasari, 5 gram adas, 5 gram biji pala, dan gula aren secukupnya, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 450 cc. Kemudian disaring dan diminum selagi hangat sebanyak 150 cc, lakukan tiga kali sehari.</li>
<li><strong>Obat diare</strong>, 5 gram kayu manis, 5 lembar daun jambu biji, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Air disaring dan ditambahkan gula secukupnya, kemudian diminum 150 cc sebanyak dua kali sehari</li>
</ul>
<p><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/kayu-manis-si-dokter-herbal-yang-banyak-manfaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DI BALIK LEZATNYA SI BUAH NANGKA</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/si-orange-penurun-kadar-kolesterol/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/si-orange-penurun-kadar-kolesterol/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 07:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Aulia Nurlatifah Tidak asing lagi memang jika buah yang paling banyak ditanam di daerah tropis ini sangat di gemari oleh masyarakat, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa sangat menyukainya.  Rasanya yang sangat manis, dan aromanya yang khas menjadi <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/si-orange-penurun-kadar-kolesterol/" class="more" title="DI BALIK LEZATNYA SI BUAH NANGKA"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Aulia Nurlatifah</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Tidak asing lagi memang jika buah yang paling banyak ditanam di daerah tropis ini sangat di gemari oleh masyarakat, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa sangat menyukainya.  Rasanya yang sangat manis, dan aromanya yang khas menjadi salah satu ciri dari buah ini.  Siapa sangka di balik kelezatannya, ternyata buah nangka dengan nama latin <em>Artocarpus heterophyllus </em>Lam,  mengandung berbagai macam  vitamin A, vitamin C, vitamin B dalam bentuk senyawa thiamin, riboflavin, niacin dan mengandung mineral seperti calcium, potassium, ferrum (zat besi), magnesium, dalam jumlah yang cukup banyak bila dibandingkan dengan berbagai nutrien lain.</p>
<p>Beberapa manfaat nangka antara lain, pertama Meningkatkan kesehatan saluran pencernaan. Nangka mampu membantu menyembuhkan borok lambung dan serat nangka sangat membantu mengatasi konstipasi (susah buang air besar). Dengan demikian, buah nangka mampu ikut membantu mencegah timbulnya kanker usus besar. Kedua,  Memperkuat sistem imun. Buah nangka adalah sumber vitamin C yang sangat baik, sebagai antioksidan yang ampuh mencegah flu dan infeksi. Ketiga, Proteksi terhadap kanker. Buah nangka mengandung fitonutrien seperti lignan, isoflavon, dan saponin yang membentuk proteksi tubuh melawan timbulnya kanker. Keempat, Menurunkan tekanan darah. Buah nangka mengandung potassium (kalium) yang penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan eletrolit sehingga bermanfaat positif terhadap pengaturan tekanan darah, sehingga mengurangi resiko serangan jantung dan stroke.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi indra penglihatan pun nangka cukup berguna. Kandungan vitamin A dalam buah nangka akan membantu menjaga kesehatan mata. Selain itu, vitamin ini juga penting untuk menjaga kesehatan kulit dan membran mukosa (contohnya pada hidung di bagian dalam) dan meningkatkan fungsi sistem imun.</p>
<p><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/si-orange-penurun-kadar-kolesterol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MINUMAN ISOTONIK BAHAYA TIDAK?</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/minuman-isotonik-bahaya-tidak/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/minuman-isotonik-bahaya-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 16:06:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis Sediaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dian Abdillah SAAT kita merasa lelah dan haus selesai beraktivitas, tentunya kita ingin meneguk minuman yang segar dan rnampu mengembalikan stamina tubuh dengan cepat. Maka minuman isotonic, pun menjadi salah satu pilihan. Disamping rasanya yang  bervariasi, minuman isotonic <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/minuman-isotonik-bahaya-tidak/" class="more" title="MINUMAN ISOTONIK BAHAYA TIDAK?"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;">Oleh : Dian Abdillah</span></p>
<p>SAAT kita merasa lelah dan haus selesai beraktivitas, tentunya kita ingin meneguk minuman yang segar dan rnampu mengembalikan stamina tubuh dengan cepat. Maka minuman isotonic, pun menjadi salah satu pilihan. Disamping rasanya yang  bervariasi, minuman isotonic juga mengandung ion, yang dipercaya dapat cepat menggantikan cairan tubuh yang hilang. Saat ini, banyak minuman isotonik di pasaran bebas dengan berbagai merek dan dapat dibeli dengan harga yang cukup terjangkau.</p>
<p>Banyak masyarakat mengonsumsi karena tergiur akan manfaat yang kabarnya bisa mengganti cairan danelektrolit tubuh yang hilang akibat aktivitas. Aktivitas itu tidak dijabarkan secara detail, apakah aktivitas biasa yang tidak menguras tenaga atau aktivitas berat yang tentunya banyak mengeluarkan cairan tubuh.</p>
<p>Bicara tentang cairan tubuh, setiap harinya manusia mernbutuhkan cairan dengan jumlah rata-rata 2.000 sampai 2.500 ml untuk mengganti cairan yang keluar melalui ,pernapasan, keringat, dan urin. Ini jika tubuh dalam kondisi normal.</p>
<p>Namun jika tubuh melakukan kerja fisik yang terlampau berat atau sedang diare, jumlah cairan yang keluar pun makin banyak. Akibatnya tentu saja, tubuh lebih membutuhkan cairan pengganti. Jika tidak terpenuhi, metabolisme tubuh pun jadi menurun dan mengganggu proses pencernaan, penyerapan zat-zat gizi, hingga temperatur tubuh.</p>
<p>Bagaimana dengan air putih biasa sebagai penggantinya? Ternyata, cairan ini masih belum mampu mengganti cairan tubuh dan elektrolit yang telah keluar. Elektrolit sendiri merupakan larutan garam yang penting bagi tubuh. Jika tidak ada larutan ini, air putih tidak akan terserap sempurna dan menimbulkan efek  dehidrasi pada tubuh.</p>
<p>Jadi jangan bingung ketika kita  sudah merasa cukup minum, namun masih saja ada yang terasa kurang di dalam tubuh. Sudah minum banyak air.justru perut yang jadinya kembung.</p>
<p>Karena air kurang cukup memenuhi kebutuhan tubuh, muncullah minuman isotonik yang komposisinya di rancang dengan tekanan osmotik sama dengan tekanan darah tubuh.</p>
<p>Fungsinya pun tidak cukup satu. Minuman isotonik ini bisa mengganti cairan tubuh energi sampai elektrolit tubuh yang hilang.</p>
<p>Isotonik terdiri dari dua kata  yaitu Iso yang artinyasama dan tonik artinya tekanan.</p>
<p>Tekanan yang sama artinya cairan di dalam minuman isotonik harus mempunyai tekanan yang sama yang terdapat dalam sel tubuh, dalarn satuan Osmolaritas.</p>
<p>Memang benar, minuman isotonik dapat menganti cairan tubuh karena dirancang dengan tekanan osmotik yang sama dengan tekanan darah tubuh. Namun, jika meminum minuman isotonik dalam kondisi normal atau di saat tidak beraktivitas berat, tubuh tidak perlu zat-zat elektrolit dan kandungan mineral. Minuman itu akan terbuang sia-sia.Justru, ada bahaya mengintai jika meminum isotonik berlebihan.</p>
<p>Minuman ini diduga rnengandung sejumJah bahan pengawet yang berbahaya bagi tubuh. Efek terhadap tubuh tentu efek buruk, yaitu jika penggunaan dalam jangka panjang dapat menimbulkan penyakit Lupus (Systemic Lupus Eritematosus).</p>
<p>Dalam literatur disebutkan, bila dikonsurnsi berlebihan, timbul efek samping berupa edema (bengkak) karena retensi atau tertahannya cairan di tubuh. Bisa juga naiknya tekanan darah sebagai akibat bertambahnya volume plasma lantaran pengikatan air oleh natrium. Ini bisa dimengerti karena isotonik tidak mudah diserap ginjal. Konsumsi minuman isotonik bisa memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan mineral yang tak dibutuhkan tubuh. Sanga disarankan isotonik tidak boleh diminum sembarangan . karena mengandung garam. Apabila berlebihan, kadar garam dalam tubuh akan menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.</p>
<p>nah Jadi, kita boleh meminum minuman isotonik tetapi tidak boleh mengkonsumsi berlebihan, karena ada dampak negatifnya. Semoga dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca.(*)</p>
<p><strong> * Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/minuman-isotonik-bahaya-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENDEKATAN ILMIAH DALAM PRAKTEK FARMASI KLINIK</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/pendekatan-ilmiah-dalam-praktek-farmasi-klinik/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/pendekatan-ilmiah-dalam-praktek-farmasi-klinik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 03:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ivan Surya Pradipta Pendahuluan Terjadi perubahan paradigma farmasi yang mendasar dalam dekade terkahir, yaitu perubahann paradigma dari product oriented menjadi patient oriented. Tuntutan pada paradigma patient oriented, farmasis tidak hanya berorientasi hanya kepada produk, namun juga dituntut untuk <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/pendekatan-ilmiah-dalam-praktek-farmasi-klinik/" class="more" title="PENDEKATAN ILMIAH DALAM PRAKTEK FARMASI KLINIK"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : Ivan Surya Pradipta </em></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Terjadi perubahan paradigma farmasi yang mendasar dalam dekade terkahir, yaitu perubahann paradigma dari <em>product oriented </em>menjadi <em>patient oriented</em>. Tuntutan pada paradigma <em>patient oriented</em>, farmasis tidak hanya berorientasi hanya kepada produk, namun juga dituntut untuk berorientasi kepada pasien, sehingga diharapkan farmasis dapat memberikan kontribusi keilmuannya secara aktif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.  Secara historis, perkembangan farmasi global melalui tahapan-tahapan periode. Tahap tradisional terjadi sebelum tahun 1940-an dimana fungsi dan peranan farmasis hanya berorientasi kepada produk, seperti kegiatan menyediakan, membuat dan mendistribusikan obat. Kegiatan ini menekankan pada ilmu dan seni meracik obat dalam skala kecil untuk kebutuhan pengobatan di rumah sakit ataupun di komunitas. Tahap ini mulai goyah ketika mulai berkembangnya farmasi industri yang memproduksi obat dalam skala besar. Periode tersebut terjadi sekitar tahun 1940-an, dimana peresepan tidak lagi menekankan pada obat-obatan yang membutuhkan peracikan, namun peresapan berisikan obat-obatan dalam sediaan jadi yang diproduksi oleh industri farmasi dalam skala besar. Semakin berkembangnya ilmu kedokteran pada tahun 1960 hingga 1970-an ditandai dengan mulai bermunculan berbagai jenis obat-obatan baru serta berkembangnya metode dan alat-alat diagnosa yang baru sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan baru dalam proses penggunaan obat. Hal tersebut memunculkan tahapan transisional, dimana tuntutan terhadap kontribusi farmasis dalam dunia kesehatan semakin tinggi. Pada masa tersebut banyak kalangan memandang bahwa peran farmasis tidak difungsikan sebagaimana kompetensi yang dimilikinya, sehingga di Amerika dan Inggris pada tahun 1960-an muncul istilah farmasi klinik.</p>
<p>Periode awal famasi klinik ditunjukkan dengan adanya farmasis yang mulai mengembangkan fungsi-fungsi baru dan mencoba menerapkannya, sebagai contoh adalah dimulainya kegiatan farmasis bangsal yang menempatkan farmasis di bangsal-bangsal rawat inap untuk memberikan kontribusi keilmuannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup pasien, meskipun kontribusi tersebut masih dirasakan terbatas. Penerapan fungsi-fungsi baru pada masa itu bukanlah tanpa kendala, kendala yang ditemui diantaranya adalah banyaknya pertentangan dari dokter, perawat dan farmasis, namun terdapat pula faksi-faksi yang mendukung fungsi-fungsi baru tersebut untuk terus dilakukan dan dikembanngkan. Kegigihan dan semangat untuk menjawab tuntutan berbagai kalangan mengenai peran farmasis ditunjukkan dari masa ke masa, sehingga lahirlah periode <em>Pharmaceutical care </em>dimana <em>clinical pharmacy services</em> diberikan dengan semakin baik dan paripurna.</p>
<p>Periode <em>Pharmaceutical Care</em> ditunjukkan dengan berkembangnya pendidikan tinggi farmasi yang berbasiskan farmasi klinik. Hal tersebut ditandai dengan munculnya pendidikan farmasi klinik yang sifatnya spesialistik, contohnya  farmasi klinik spesialis penyakit infeksi, kardiologi, onkologi, pelayanan informasi obat dan lain lain. Kehadiran farmasis berkeahlian klinik di negara-negara maju makin dirasakan sangat penting, mengingat makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan. Penanganan pasien dilakukan melalui sebuah tim multi profesi kesehatan yang meliputi, dokter, farmasis, perawat dan tenaga kesehatan lainnya . Adanya sinergi keilmuan lintas profesi yang baik diantara profesi kesehatan dalam penanganan pasien, akan memberikan dampak yang baik bagi <em>outcome clinic </em>pasien yang ditanganinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Farmasi klinik</strong></p>
<p>Clinical Resources and Audit Group (1996) mendefinisikan farmasi klinik sebagai “ <em>A discipline concerned with the application of pharmaceutical expertise to help maximise drug efficacy and minimize drug toxicity in individual patients</em>”. Menurut Siregar (2004) farmasi klinik didefinisikan sebagai suatu keahlian khas ilmu kesehatan yang bertanggung jawab  untuk memastikan penggunaan obat yang aman dan sesuai dengan kebutuhan pasien, melalui penerapan pengetahuan dan berbagai fungsi terspesialisasi dalam perawatan pasien yang memerlukan pendidikan khusus dan atau pelatihan yang terstruktur. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dirumuskan tujuan farmasi klinik yaitu memaksimalkan efek terapeutik, meminimalkan resiko/toksisitas obat, meminimalkan biaya dan menghormati pilihan pasien.</p>
<p>Kegiatan farmasi klinik tidak hanya memberikan saran professional pada saat peresepan saja namun kegiatan farmasi klinik mencakup kegiatan sebelum persepan, saat persepan dan setelah peresepan. Kegiatan farmasi klinik sebelum peresepan meliputi setiap kegiatan yang mempengaruhi kebijakan  peresepan, seperti penyusunan formularium rumah sakit, mendukung informasi dalam menetapkan kebijakan peresepan rumah sakit, evaluasi obat. Kegiatan farmasi klinik selama peresapan contohnya adalah memberikan saran profesional kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan terapi pada saat peresepan sedang dilakukan. Sedangkan kegiatan farmasi klinik sesudah peresepan yaitu setiap kegiatan yang berfokus kepada pengoreksian dan penyempurnaan peresepan, seperti  monitoring DRPs, monitoring efek obat, <em>outcome research </em>dan <em>Drug Use Evaluation </em>(DUE).</p>
<p>Farmasis klinik berperan dalam mengidentifikasi adanya  <em>Drug Related Problems </em>(DRPs).  <em>Drug Related Problems </em>(DRPs) adalah suatu kejadian atau situasi yang menyangkut terapi obat, yang mempengaruhi secara potensial atau aktual hasil akhir pasien. Menurut Koda-Kimble (2005), DRPs diklasifikasikan, sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Kebutuhan akan obat (<em>drug needed</em>)
<ul>
<li>Obat diindikasikan tetapi tidak diresepkan</li>
<li>Problem medis sudah jelas tetapi tidak diterapi</li>
<li>Obat yang diresepkan benar, tetapi tidak digunakan (<em>non compliance</em>)</li>
</ul>
</li>
<li>Ketidaktepatan obat (<em>wrong/inappropriate drug</em>)
<ul>
<li>Tidak ada problem medis yang jelas untuk penggunaan suatu obat</li>
<li>Obat tidak sesuai dengan problem medis yang ada</li>
<li>Problem medis dapat sembuh sendiri tanpa diberi obat</li>
<li>Duplikasi terapi</li>
<li>Obat mahal, tetapi ada alternatif yang lebih murah</li>
<li>Obat tidak ada diformularium</li>
<li>Pemberian tidak memperhitungkan kondisi pasien</li>
</ul>
</li>
<li>Ketidaktepatan dosis (<em>wrong / inappropriate dose</em>)
<ul>
<li>Dosis terlalu tinggi</li>
<li>Penggunaan yang berlebihan oleh pasien (<em>over compliance</em>)</li>
<li>Dosis terlalu rendah</li>
<li>Penggunaan yang kurang oleh pasien (<em>under compliance</em>)</li>
<li>Ketidaktepatan interval dosis</li>
</ul>
</li>
<li>Efek buruk obat (<em>adverse drug reaction</em>)
<ul>
<li>Efek samping</li>
<li>Alergi</li>
<li>Obat memicu kerusakan tubuh</li>
<li>Obat memicu perubahan nilai pemeriksaan laboratorium</li>
</ul>
</li>
<li>Interaksi obat (<em>drug interaction</em>)
<ul>
<li>Interaksi antara obat dengan obat/herbal</li>
<li>Interaksi obat dengan makanan</li>
<li>Interaksi obat dengan pengujian laboratorium</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>Secara garis besar kegiatan farmasi klinik meliputi pemantauan dan evaluasi penggunaan obat, pelayanan farmasi di bangsal, pelayanan informasi obat, penelitian dan pengembangan. Kegiatan farmasi klinik memiliki karakteristik, antara lain : berorientsi kepada pasien; terlibat langsung dalam perawatan pasien; bersifat pasif, dengan melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai atau memberikan informasi jika diperlukan; bersifat aktif, dengan memberikan masukan kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan pengobatan pasien; bertanggung jawab terhadap setiap saran yang diberikan; menjadi mitra sejajar dengan profesi kesehatan lainnya (dokter, perawat dan tenga kesehatan lainnya). Keterampilan dalam melakukan praktek farmasi klinik memerlukan pemahaman keilmuan, seperti :</p>
<ol>
<li>Konsep-konsep penyakit (anatomi dan fisiologi manusia, patofisiologi, patogenesis)</li>
<li>Penatalaksanaan Penyakit (farmakologi, farmakoterapi dan <em>product knowledge</em>)</li>
<li>Teknik komunikasi dan konseling</li>
<li>Pemahaman <em>Evidence Based Medicine</em> (EBM)  dan kemampuan melakukan penelusurannya</li>
<li>Keilmuan farmasi praktis lainnya</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Evidence Based Medicine</em></strong><strong> (EBM) Sebagai Pendekatan Praktek Farmasi Klinik</strong></p>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan berjalan sangat cepat, hal tersebut sejalan dengan berkembangnya inovasi-inovasi baru di bidang farmasi maupun kedokteran. Paradigma lama bahwa pengobatan berdasarkan suatu pengalaman dan uji coba (<em>trial and error</em>) mulai bergeser kearah paradigma yang disebut dengan <em>Evidence Based Medicine</em> (EBM). Dalam terminologi EBM, pengobatan harus berdasarkan bukti ilmiah atau hal lainnya yang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga pemahaman mengenai EBM sangat diperlukan bagi praktisi kesehatan yang terjun didalam dunia klinis.</p>
<p>Di bidang farmasi klinik <em>Evidence Based Medicine</em> berperan dalam mendukung  proses-proses penggunaan obat (<em>drug uses proceses</em>), antara lain keputusan menggunakan terapi obat, pemilihan obat, penentuan regimen obat, labeling dan dispensing, edukasi pasien, monitoring obat , tindak lanjut monitoring obat dan evaluasi. Penggunaan EBM dibidang faramsi klinik diharapkan dapat memberikan pengobatan yang rasional dan sesuai dengan <em>outcome </em>klinis yang diharapkan. Selain itu, kebutuhan EBM menjadi sangat diperlukan untuk seorang farmasis klinik untuk meyakinkan kepada dokter bahwa rekomendasi yang diberikan merupakan hal yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan terapi.</p>
<p><em>Evidence Based Medicine</em> didefinisikan sebagai suatu pendekatan pada praktek medis yang menggunakan hasil penelitian mengenai <em>patient care</em> dan bukti objektif lainnya yang diperoleh sebagai komponen dalam membuat keputusan klinis. Terdapat beberapa  istilah yang sering digunakan dalam EBM, antaralain (1) <em>Evidence Based Diagnose, </em>merupakan EBM yang biasa digunakan oleh dokter sebagai komponen dalam menegakkan diagnosa,<em> </em>(2) <em>Evidence Based Nursing, </em>merupakan EBM yang biasa digunakan oleh perawat dalam menjalankan <em>Nursing Care, </em>(3) <em>Evidence Based Pharmacotherapy, </em>merupakan EBM yang digunakan oleh farmasis dalam terapi.</p>
<p>Berdasarkan klasifikasi <em>Agency for Health Care Policy and Research </em>(AHCPR), <em>US</em>, terdapat 7 level Evidence Based Medicin. Level-level EBM tersebut didasarkan atas kekuatan desain penelitian atau hal lainnya yang layak digunakan sebagai EBM. 7 level EBM tersebut, antara lain :</p>
<p>Level I         Merupakan hasil penelitian dengan metode eksperimental, <em>Randomized Control Trial</em> (RCT), dengan sampel yang besar yang diperoleh dari gabungan pusat-pusat penelitian dengan desain yang sama (meta analisis &amp; <em>multicenter)</em></p>
<p>Level II       Merupakan hasil penelitian dengan metode eksperimental, <em>Randomized Control Trial</em> (RCT) yang diperoleh dari satu pusat penelitian saja</p>
<p>Level III      Merupakan hasil penelitian dengan metode observasional, kohort, desain penelitian yang baik</p>
<p>Level IV      Merupakan hasil penelitian dengan metode observasional, <em>case control</em>, desain penelitian yang baik</p>
<p>Level V       Merupakan hasil penelitian tanpa kelompok kontrol atau kelompok kontrol yang kurang, dengan desain penelitian yang baik</p>
<p>Level VI      Merupakan EBM yang memiliki banyak pertentangan dikalangan medis, tetapi cenderung di favoritkan sebagai EBM</p>
<p>Level VII     Pendapat atau opini Ahli.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Langkah-langkah Implementasi EBM</strong></p>
<p>Implementasi EBM membutuhkan langkah-langkah yang tepat agar didapatkannya EBM yang dapat digunakan untuk memcahlan permasalan yang kita temui. Langkah-langkah dalam dalam mengimplementasikan EBM, antara lain :</p>
<p>1. Menciptakan suatu pertanyaan klinis</p>
<p style="text-align: left;">Ciptakan pertanyaan klinis yang merepresentasikan keadaan pasien yang sesungguhnya. Pertanyaan tersebut meliputi PICO (<em>Patient, Intervention, Comparation, Outcome</em>).</p>
<p style="text-align: left;">2. Pencarian EBM</p>
<p>Lakukan penulusuran sumber informasi berdasarkan pertanyaan klinis yang dibuat. Sumber informasi dapat diperoleh melalui:</p>
<ul>
<li>Sumber informasi non-elektronik, seperti literatur primer (printed journal), sekunder (kumpulan abstrak), sekunder (text book), opini ahli</li>
<li>Sumber informasi elektronik, seperti website, artikel ilmiah dan lain-lain.</li>
</ul>
<p>3. Evaluasi hasil EBM</p>
<p>Setelah didapatkan EBM melalui penelusuran EBM, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil EBM yang diperlukan. Diperlukan kehalian dalam <em>critical appraisal evidence</em> dengan melihat validitas dan keterpakaiannya pada permasalahan yang kita temui. Karena tidak semua sumber informasi menunujkkan validitas yang baik serta nilai aplikasi yang baik terhadap permasalahn yang kita hadapi.Implementasi EBM</p>
<p>Setelah didapatkan EBM yang telah di evaluasi, gabungkan keahlian klinik dengan hasil <em>evidence</em> untuk melakukan intervensi klinik</p>
<p>4. Evaluasi <em>outcome</em> klinis</p>
<p>Lakukan monitoring terhadap intervensi klinik yang kita lakukan. Jika hasilnya kurang baik maka lakukan evaluasi baik terhadap EBM maupun terhadap problem medis yang ada.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Perkembangan dunia farmasi global menunjukkan tren terhadap tuntutan implementasi farmasi klinik dalam pelayanan kefarmasian. Tuntutan tersebut harus dijawab oleh kalangan famasis / apoteker jika ingin tampil sebagai suatu profesi yang memiliki peran dan dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemahaman terhadap bekal keilmuan yang mendukung praktek farmasi klinik harus terus di explorasi tanpa perlu menunggu tersedianya pendidikan formal maupun informal, karena ciri dari suatu profesi salah satunya adalah <em>life long learner</em>. <em>Evidence Based Medicine</em> harus menjadi dasar farmasis/apoteker dalam mengambil keputusan klinis, oleh karena itu pemahaman terhadap EBM mutlak diperlukan dalam praktek farmasi klinik. EBM dapat memberikan manfaat,antara lain meningkatkan kepercayaan diri dalam memberikan saran professional, meningktakan komunikasi yang efektif terhadap tenaga kesehatan, menambah wawasan dan dapat meningkatkan <em>outcome</em> klinis pasien.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Aslam M, Tan CK, Prayitno A, 2003, <em>Farmasi Klinis</em>, Jakarta, Gramedia Elex Media Komputindo.</p>
<p>Chiquette, E and Posey, LM., 2005, <em>Evidence Based Medicine </em> in JT. DiPiro, RL. Talbert, GC. Yee, GR. Matzke, BG. Wells, LM. Posey, (Eds), Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6<sup>th</sup> edition, McGraw-Hill, New York, 27-37.</p>
<p>Koda-Kimble M.A., Young L.Y., Kradjan W.A., Guglielmo B.J., 2005, <em>Applied Theurapeutics : </em><em>The Clinical Use of Drugs</em>, 8<sup>th</sup> edition, Lippincott Williams and Wilkin, Philadelphia.</p>
<p>Malone, P.M., Mosdell, K.W., Kier, K.L., and Stanovich, J.E., 2001, <em>Drug Information A Guide for Pharmacists</em>, 2nd edition, McGraw-Hill, New York.</p>
<p>Rosenthal, M., Austin, Z., Tsuyuki, RT., Are Pharmacist the Ultimate Barrier to Pharmacy Practice Change ?, <em>CPJ/RP Jour 2010; 143 (1): 37-42</em></p>
<p>Scroccaro, G., Alminana, MA., Schreudering, AF., Yechiel, Hekster, Huon, Y., The Need for Clinical Pharmacy<em>, Pharm Worl Sci 2000;22(1): 27-29</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Siregar Charles, JP., Amalia Lia, 2003, <em>Farmasi Rumah Sakit : Teori dan Praktek</em>, Penerbit EGC, Jakarta</p>
<p><em> *<strong> Penulis adalah anggota Kelompok Bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik</strong></em></p>
<p><strong> <em>Fakultas Farmasi Universitas Padjajdaran, Bandung</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/pendekatan-ilmiah-dalam-praktek-farmasi-klinik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;HYPER TORCHES&#8221; TABLET HISAP SEBAGAI TERAPI BAGI PEROKOK</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/hyper-torches-tablet-hisap-sebagai-terapi-bagi-perokok/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/hyper-torches-tablet-hisap-sebagai-terapi-bagi-perokok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 05:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis Sediaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fhatih Zam “Wahai perokok kalau Anda ingin merokok, merokoklah diruangan tertutup atau pakailah kantong plastikdan tutupi kepala Anda saat merokok agar semua asap rokok dapat Anda hirup. Kami sama sekali tidak butuh asap rokok Anda!” Kalimat diatas adalah <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/hyper-torches-tablet-hisap-sebagai-terapi-bagi-perokok/" class="more" title="&#8220;HYPER TORCHES&#8221; TABLET HISAP SEBAGAI TERAPI BAGI PEROKOK"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Fhatih Zam</p>
<p>“Wahai perokok kalau Anda ingin merokok, merokoklah diruangan tertutup atau pakailah kantong plastikdan tutupi kepala Anda saat merokok agar semua asap rokok dapat Anda hirup. Kami sama sekali tidak butuh asap rokok Anda!”</p>
<p>Kalimat diatas adalah kalimat yang lumayan ekstrem dari seorang teaman yang bukan perokok yang di-<em>share </em> di jejaring sosial Facebook. Mungkin dia merasa kesal karena telah turut menghisap racun meskipun tidak merokok (menjadi perokok pasif). Akan tetapi tidak demikian bagi Nining, mahasiswa Farmasi Unpad. Meskipun bukan perokok, Nining memahami betul bahwa disamping merokok itu tidak baik untuk kesehatan tidak mudah untuk menghilangkan ketergantugan merokok.</p>
<p>“Ketika seseorang ingin berhenti merokok, ada depresi ringan yang terjadi pada orang tersebut selama dua sampai tiga minggu. Depresi ringan tersebut jika tidak segera di tangani akan menjadi depresi berat. Inilah yang membuat orang yang ingin berhenti merokok menjadi tidak tahan dan ingin kembali merokok,” kata Nining yang termotivasi melakukan penelitian ini karena di Indonesia belum ada terapi khusus untuk perokok. Padahal, di Amerika, terapi semacam ini sudah sangat marak.</p>
<p>Depresi ini semacam tekanan yang dialami oleh orag yang ingin berhenti merokok karena dia sudah merasakan betul ketenangan yang didapat dari merokok. Dia khawatir dengan berhenti merokok dia tidak lagi merasakan  ketenangan. Lebih tepatnya efek kecanduan. Menurut Nining, efek tenang dan kecanduan itu merupakan aktivitas neurotransmiter sistem saraf pusat.</p>
<p>Menurut Nining yang harus dihentikan adalah bukan aktivitas merokoknya, tetap kecanduannyaterhadap rokok. Oleh kerena itu Nining, Sofa Dewi Alfian, Iman Budiman, Widya Norma Insani dan Tya Nur Salma mencoba memformulasikan secara khusus suatu tablet isap sebagai terapi bagi perokok. Tablet isap tersebut merupkan ekstrak <em>Hypericum perforatum </em>yang secara khusus mereka datangkan dari Cina karena di Indonesia tidak dijual. <em>Hypericum perforatum</em>merupakan tumbuhan herbal yang telah mendunia. Di beberapa negara tumbuhan ini telah digunakan sebagai antidepresan.</p>
<p>“Sebenarnya tumbuhan ini kami dapatkan juga dari Bogor, tetapi secar kuantitas kurangkarena masih sebagai tanaman koleksi,” Kata Nining.</p>
<p>Berdasarkan penelitian, ekstrak <em>Hypericum perforatum</em> memiliki sifat antidepresan yaitu membantu menekan efek depresi dari perokok yang mengonsumsinya. Ekstrak <em>Hypericum perforatum</em> ini memiliki efek penenang sebagaimana rokok.dengan demikian,perokok yang melakukan terapi dengan tablet ekstrak <em>Hypericum perforatum</em> ini akan merasakan ketenangan yang bisa menggantikan efek ketenangan rokok yang membuat kecanduan.</p>
<p>“Meskipun memiliki efek penenang seperti rokok, ekstrak <em>Hypericum perforatum</em> ini tidak membuat kecanduan, karena memiliki sifat antidepresan. Efek tenang dari tablet ini nantinya akan mempengarusi sistem saraf pusat, sehingga efek tenang rokok dapat dihilangkan.” Ujar Nining.</p>
<p>Daun kering <em>Hypericum perforatum </em>yang mereka beli dari Cina secara <em>online</em> itu kemudian diekstraksi. Setelah itu, hasil ekstraksi dikeringkan dan akan dihasilkan sarinya dalam bentuk serbuk. Setelah itu serbuk hasil ekstraksi dicampurkan dengan bahan-bahan pembuat tablet hisap dengan kompisisi yang tepat. Tablet isap ini dapt dikonsumsi dengan dosis tiga kali sehari setelah makan selama dua minggu. Produk penelitian ini dinamakan <em>Hyper Torches.</em></p>
<p>Hasil penelitian lima mahasiswa Farmasi Unpad ini berhasil lolos pada Program Kreativitas Mahasiswadan mendapat pendanaan dari Dikti. Bukan hanya itu, kelompok ini dan penelitiannya juga mendapat undangandari Kongres Mahasiswa Kesehatan Internasional dalam ajang International Medical Student Research Congress di Turki.</p>
<p><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
<p><strong>* Pikiran Rakyat, Kamis 28 Juli 2011</strong></p>
<p><em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/hyper-torches-tablet-hisap-sebagai-terapi-bagi-perokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keajaiban 8 Gelas Air Putih</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/keajaiban-8-gelas-air-putih/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/keajaiban-8-gelas-air-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 16:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADME]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Marchi Sevenny Ramadwita Mengapa harus minum air putih sebanyak-banyaknya? Sebenarnya jawabannya “cukup mengerikan” tetapi dapat dijelaskan sebagai berikut : Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air lebih dari <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/keajaiban-8-gelas-air-putih/" class="more" title="Keajaiban 8 Gelas Air Putih"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh : Marchi Sevenny Ramadwita<br />
</strong></p>
<p>Mengapa harus minum air putih sebanyak-banyaknya? Sebenarnya jawabannya “cukup mengerikan” tetapi dapat dijelaskan sebagai berikut : Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air lebih dari 80%.</p>
<p>Dua organ paling penting dengan kadar air lebih dari 80% adalah darah dan otak. Otak memiliki komponen air sebanyak 90% sementara darah 95%. Jatah minum manusia normal dalam sehari adalah 2 liter atau 8 gelas. Jumlah diatas harus ditambah jika anda perokok. Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita melalu air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi.</p>
<p>Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari? Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Bagaimana caranya? Dengan jalan menyerap air dari komponen tubuh sendiri. Apakah dari otak? Lalu bagaimana kalau otak kita kering? Ternyata bukan otak tapi dari sumber terdekat yaitu darah. Darah yang diserap airnya akan menjadi kental. Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanan darah akan kurang lancar dibandingkan dengan yang encer.</p>
<p>Saat melewati ginjal (tempat menyaring racun dari darah) ginjal akan bekerja ekstra keras untuk menyaring darah. Dan karena saringan dalam ginjal itu halus, tak jarang darah yang kental menyobek glomerolus dalam ginjal. Akibatnya air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin pada suatu saat akan menghabiskan 400rbu seminggu untuk cuci darah. Saat darah kental mengalir lewat otak, perjalanan akan terhambat. Otak tidak lagi “encer”. Dan karena sel otak adalah sel yang paling banyak menkonsumsi makanan dan  oksigen, lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel otak mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bila ini ditambah dengan penyakit jantung (yang juga kerjanya bertambah berat bila darah mengental), maka serangan stroke bisa lebih lekas datang.</p>
<p>Sekarang pilihan ada ditangan anda ; melakukan “investasi” dengan minum sedikitnya 8 gelas perhari atau membayar “bunga” lewat sakit ginjal atau stroke.</p>
<p><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
<p><strong>* Radar Cirebon Group, Selasa 2 agustus 2011</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/keajaiban-8-gelas-air-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Tidak Boleh Mengkonsumsi Obat dengan Susu?</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-tidak-boleh-mengkonsumsi-obat-dengan-susu/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-tidak-boleh-mengkonsumsi-obat-dengan-susu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 16:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADME]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja Obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Marina Marfiyanti Jangan meminum obat dengan susu. Hal ini sering sekali diucapkan oleh masyarakat. Tetapi sampai saat ini masih banyak orang yang acuh tak acuh akan kalimat itu sehingga mereka tetap mengkonsumsi obat dengan susu atau meminum susu <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-tidak-boleh-mengkonsumsi-obat-dengan-susu/" class="more" title="Mengapa Tidak Boleh Mengkonsumsi Obat dengan Susu?"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Marina Marfiyanti</p>
<p>Jangan meminum obat dengan susu. Hal ini sering sekali diucapkan oleh masyarakat. Tetapi sampai saat ini masih banyak orang yang acuh tak acuh akan kalimat itu sehingga mereka tetap mengkonsumsi obat dengan susu atau meminum susu selang beberapa menit setelah mengkonsumsi obat. Bahkan mengkonsumsi obat dengan susu sudah menjadi kebiasaan bagi segelintir orang tanpa mengetahui efeknya.</p>
<p>Padahal saat kita mengkonsumsi obat dengan susu, kemungkinan besar obat yang diminum tidak akan bereaksi karena terhambat oleh susu, sehingga sakit yang diderita justru terasa lebih lama. Mengkonsumsi susu setengah liter saja bahkan bisa menurunkan efektifitas obat hingga 80 persen. Kalsium yang terdapat dalam susu juga mengganggu penyerapan obat osteoporosis.</p>
<p>Ini disebabkan karena kalsium yang dikandung dalam susu biasa membentuk ikatan dengan zat-zat dalam bebebrapa obat dan menghalangi penyerapan oleh lambung. Contohnya adalah tetrasiklin, zat yang biasa ada dalam antibiotik untuk obat flu.</p>
<p>Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap obat dengan baik, termasuk keasaman relatif di perut, ada atau tidaknya nutrisi lemak atau nutrisi lainnya, serta apakah ada unsur-unsur tertentu dalam tubuh seperti kalsium yang dapat menghambat penyerapan obat dengan baik.</p>
<p>Air putih memang paling netral untuk mengantarkan obat-obatan kedalam tubuh kita agar memperoleh manfaatnya karena air putih tidak mengandung senyawa-senyawa yang dapat menghambat penyerapan obat oleh tubuh. Jika ingin minum susu, tunggu setidaknya satu jam setelah minum obat. Semoga bermanfaat !</p>
<p><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
<p><strong>* Radar News, Minggu, 31 Juli 2011</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-tidak-boleh-mengkonsumsi-obat-dengan-susu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Obat Maag Harus Dikunyah ?</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-obat-maag-harus-dikunyah/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-obat-maag-harus-dikunyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Aug 2011 04:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADME]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis Sediaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja Obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Prinka Ariessa Beberapa orang mungkin pernah mengonsumsi obat maag dan bertanya-tanya “ini obat maag perlu dikunyah kenapa sih? Ga bisa ya langsung ditelan aja”. Pertanyaan sederhana, tetapi menuntut penjelasan yang cukup serius karena ini berhubungan dengan efek obatnya. <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-obat-maag-harus-dikunyah/" class="more" title="Mengapa Obat Maag Harus Dikunyah ?"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Prinka Ariessa</strong></p>
<p>Beberapa orang mungkin pernah mengonsumsi obat maag dan bertanya-tanya “ini obat maag perlu dikunyah kenapa sih? Ga bisa ya langsung ditelan aja”. Pertanyaan sederhana, tetapi menuntut penjelasan yang cukup serius karena ini berhubungan dengan efek obatnya.</p>
<p>Sebelumnya kita perlu tahu sedikit tentang maag. Maag merupakan isitilah dari bahasa belanda yang berarti lambung sehingga nyeri pada lambung diidentikkan dengan nama maag. Secara umum gejalanya adalah sakit pada ulu hati, dapat diikuti juga dengan mual bahkan muntah, dan kembuh serta nafsu makan berkurang. Memang jika diamati sekilas, sepertinya gejala ini tidak berbahaya. Namun, bila tidak dilakukan pengobatan yang tepat, gejala ini akan bertambah parah.</p>
<p>Sebelum gejal ini diatasi dengan obat memang lebih baik jika penderita menerapkan pola hidup sehat seperti pengaturan pola makan yang teratur, tidak mengkonsumsi makanan pedas, asam, dan berkafein, tentunya menghindari rokok dan alkohol. Selain itu juga menghindari stres dan olahraga rutin. Jika memang perlu dibantu dengan obat, ada beberapa terapi yang dapat dijalani pasien.</p>
<p>Seperti yang telah disebutkan diatas, obat maag berupa tablet yang banyak beredar bebas dipasaran bentuknya merupakan tablet kunyah, obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter dan merupakan pilihan pertama untuk menangani gejala maag. Golongan obatnya adalah antasida kandungan umumnya berupa Al(OH)<sub>3 </sub>dan Mg(OH)<sub>2</sub> maupun kombinasi keduanya. Golongan obat ini dalam pengonsumsiannya m emang harus dikunyah terlebih dahulu, hal ini untuk meningkatkan kerja obat dalam menurunkan asam lambung.</p>
<p>Selain itu harus dimakan saat perut kosong yaitu sejam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Obat maag bekerja dengan menurunkan pH lambung. Saat serangan maag itu terjadi, lambung mengeluarkan cairan lambung yang biasanya membantu dalam proses pencernaan sehingga menyebabkan pH lambung menjadi lebih asam. Dibagian inilah obat maag bekerja menormalkan asam lambung menjadi lebih basa daripada sebelumnya.</p>
<p>Mengunyah obat menyebabkan obat bekerja lebih cepat dalam menormalkan pH lambung. Dengan dikunyah, obat obat menjadi bagian yang lebih kecil tidak seperti dalam iklan yang mengilustrasikan dengan tablet yang masih utuh dan bundar.</p>
<p>Namun, bukan berarti apapun obatnya harus dikunyah terlebih dahulu untuk menjadikan ukurannya menjadi lebih kecil karena enzim dalam saluran pencernaan membantu dalam hal ini. Jadi tetap lihat petunjuk pemakaian terlebih dahulu. Bagaimana kalau langsung di telan saja obat maagnya? Obat tersebut masih bekerja dan masih memberikan efek tetapi lebih lama munculnya. Jadi sebaiknya untuk memakan obat maag itu ya dikunyah dulu baru ditelan, baru kemudian minum segelas air. Oke? Semoga bermanfaat.***</p>
<p><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
<p><strong>* Pikiran Rakyat, Kamis 4 Agustus 2011</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/mengapa-obat-maag-harus-dikunyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Expired = Penyembuh atau Racun?</title>
		<link>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/obat-expired-penyembuh-atau-racun/</link>
		<comments>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/obat-expired-penyembuh-atau-racun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 09:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>galenic</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADME]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja Obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://farmasi.unpad.ac.id/padi/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lyanlie Winarto Pernahkan anda perhatikan cetakan “expired” dalam setiap makanan, minuman atau obat? Jika anda cermati, setelah cetakan “exp” pasti tertera tanggal, misal “Exp” : 11 Maret 2013. Tahukah anda, “Exp” merupakan kepanjangan dari “Expired”, berasal dari Bahasa Inggris yang <a href="http://farmasi.unpad.ac.id/padi/obat-expired-penyembuh-atau-racun/" class="more" title="Obat Expired = Penyembuh atau Racun?"> &#8230;read more</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Lyanlie Winarto</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkan anda perhatikan cetakan “<em>expired”</em> dalam setiap makanan, minuman atau obat? Jika anda cermati, setelah cetakan “<em>exp”</em> pasti tertera tanggal, misal “<em>Exp” </em>: 11 Maret 2013. Tahukah anda, “<em>Exp”</em> merupakan kepanjangan dari “<em>Expired”</em>, berasal dari Bahasa Inggris yang berarti habis waktu atau kadaluarsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala sesuatu yang dikonsumsi ke dalam tubuh, baik itu makanan, minuman atau obat memiliki kandungan bahan-bahan kimia dan terdapat batasan waktu untuk tidak dikonsumsi karena memiliki efek yang berbahaya bagi kesehatan. Pada makanan dan minuman, cara yang mudah untuk mengidentifikasi kadaluarsa suatu produk adalah dengan mengamati bentuk fisik yang dapat dilihat, seperti warna yang kusam dan keruh, bentuk yang agak keriput, atau aroma yang berbau busuk dan menyengat. Dengan mengamati keadaan fisik tersebut, diharapkan kita bisa lebih berhati-hati dalam memilih.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, bagaimana dengan obat? dapatkah anda membedakan antara obat yang sudah “expired” dan belum, apakah berbahaya obat yang kadaluarsa?. Suatu obat yang telah melewati batas kadaluarsa (expired) sangatlah berbahaya jika dikonsumsi, karena akan menimbulkan efek toksik (racun) bagi tubuh. Hal ini  dikarenakan kerja obat sudah tidak optimal dan kecepatan reaksinya telah menurun, sehingga obat yang masuk kedalam tubuh hanya akan mengendap dan menjadi racun.</p>
<p style="text-align: justify;">Kerja obat obat yang tidak optimal terjadi karena adanya penurunan kadar zat aktif yang akan menurunkan potensi obat. Hal ini dapat memberikan dampak negatif yang sangat luas karena dapat mengancam keselamatan jiwa, mengaburkan diagnosa terhadap penyakit, dan meningkatkan resistensi (antibiotik).</p>
<p style="text-align: justify;">Obat yang kadaluarsa atau habis waktu adalah keadaan dimana suatu konsentrasi dari zat aktif dan tambahan telah berkurang antara 25 – 30% dari konsentrasi awal. Obat yang konsentrasinya berkurang sangatlah berbahaya, karena konsentrasi zat yang berkurang tersebut dapat terurai dan menjadi toksik (racun) yang mengendap, sehingga sangat berbahaya bagi tubuh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>* Disadur dari Koran Radar (rubrik Aspirasi), Kamis 28 Juli 2011</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://farmasi.unpad.ac.id/padi/obat-expired-penyembuh-atau-racun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
