IntroduksiIntroduksiIntroduksi

Sejalan dengan visi, misi dan tujuan Pengembangan Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran, Fakultas Farmasi melalui Bidang Kemahasiswaan setiap tahunnya melakukan perbaikan terus menerus didalam upaya melengkapi kemampuan hardskill dengan kemampuan softskill yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan Farmasi Universitas Padjadjaran yang unggul, kompeten, profesional dan beretika. Beberapa kajian dan evaluasi yang telah dilakukan oleh berbagai pihak terkait pentingnya kemampuan softskill bagi mahasiswa mendorong Fakultas Farmasi menyusun pola pengembangan kemahasiswaan yang adaptif terhadap perubahan terkini.

Perubahan yang terjadi saat ini begitu cepat dan sulit diprediksi dalam kaitannya dengan kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya ditambah perkembangan teknologi informasi, dan sebagainya.Hal tersebut menjadikan tantangan kehidupan manusia menjadi semakin kompleks. Hampir disetiap negara baik secara global maupun regional melakukan antisipasi menghadapi perubahan tersebut. UNESCO sebagai badan dunia yang memiliki perhatian besar terkait pendidikan, memandang penting adanya perubahan paradigma pendidikan sebagai instrument ke paradigma sebagai pengembangan manusia seutuhnya (all-rounded human beings). Berdasarkan hal tersebut empat pilar pendidikan UNESCO meliputi learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together dikembangkan dan mesti diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dari berbagai tingkat pelaksana atau kesatuan pendidikan.

Kepmendiknas No. 045/U/2002 telah merancang peta jalan yang sangat jelas menuntut perubahan arah pendidikan tinggi untuk a) menghasilkan lulusan yang dapat bersaing dalam dunia global; (b) adanya perubahan orientasi pendidikan tinggi yang tidak lagi hanya menghasilkan manusia cerdas berilmu tetapi juga yang mampu menerapkan keilmuannya dalam kehidupan di masyarakatnya (kompeten dan relevan), yang lebih berbudaya; dan (c) Juga adanya perubahan kebutuhan di dunia kerja yang terwujud dalam perubahan persyaratan dalam menerima tenaga kerja, yaitu adanya persyaratan soft skills yang dominan disamping hard skillsnya. Sehingga kurikulum yang dikonsepkan lebih didasarkan pada rumusan kompetensi yang harus dicapai/dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi yang sesuai atau mendekati kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat pemangku kepentingan/ stakeholders (competence based curriculum) (Dirjen Dikti, 2008). Dengan demikian sangat jelas terlihat bahwa pengembangan soft skills bagi seluruh mahasiswa, baik intra- dan inter-personal skills, di dalam pembelajarannya di perguruan tinggi menjadi sangat diperlukan agar setelah lulus dapat berkehidupan dengan baik dalam masyarakatnya dan dapat menghadapi tantangan dunia kerja global yang dinamis dan semakin kompleks. Untuk itu, integrasi pengembangan soft skills ke dalam kurikulum dan proses pembelajaran di perguruan tinggi diharapkan dapat mewujudkan tujuan pendidikan.

PENGERTIAN DAN MANFAAT SOFT SKILLS
Soft skill dapat diartikan sebagai jalinan atribut personalitas baik intra-personalitas maupun inter-personalitas yang dapat membedakan seseorang dengan orang lain dalam komunitasnya dan membedakan orang dengan tingkatan jabatan atau karir di satu pekerjaan. Coates (2006) menyebutkan bahwa Intra-personalitas adalah keterampilan yang dimiliki seseorang dalam mengatur dirinya sendiri, sepertimanajemen waktu, manajemen stress, manajemen perubahan, karakter transformasi, berpikir kreatif, memiliki acuan tujuan positif, dan teknik belajar cepat. Sedangkan interpersonalitas adalah keterampilan berhubungan atau berinteraksi dengan lingkungan kelompok masyarakatnya dan lingkungan kerjanya serta interaksi dengan individumanusia sehingga mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal, kemampuanmemotivasi, kemampuan memimpin, kemampuan negosiasi, kemampuan presentasi,kemampuan komunikasi, kemampuan menjalin relasi, dan kemampuan bicara dimukaumum.

Sharma (2009), menyebutkan bahwa soft skills adalah seluruh aspek dari generic skills yang juga termasuk elemen-elemen kognitif yangberhubungan dengan non-academic skills. Ditambahkan pula bahwa, berdasarkan hasilpenelitian, tujuh soft skills yang diidenfikasi dan penting dikembangkan pada pesertadidik di lembaga pendidikan tinggi, meliputi; keterampilan berkomunikasi(communicative skills), keterampilan berpikir dan menyelesaikan masalah (thinking skillsand Problem solving skills), kekuatan kerja tim (team work force), belajar sepanjanghayat dan pengelolaan informasi (life-long learning and Information management),keterampilan wirausaha (entrepreneur skill), etika, moral dan profesionalisme (ethics,moral and professionalism), dan keterampilan kepemimpinan (leadership skills).

Sebagaimana telah diketahui,soft skills sangat diperlukan dalampemanfaatannya di dalam perencanaan dan proses pencarian pekerjaan serta kesuksesan meniti karir dalam pekerjaanya. Inimengindikasikan bahwa softskills dan hardskills menentukan kecepatan lulusan mendapatkanpekerjaan dan sukses didalam pekerjaannya. Di Indonesia tahun 2007, Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) melakukansurvey tentang karakter juara pilihan dunia kerja adalah sebagai berikut:
1. Mau Bekerja Keras
2. Kepercayaan diri yang tinggi
3. Mempunyai visi ke depan
4. Bisa bekerja dalam tim
5. Memiliki perencanaan matang
6. Mampu berpikir analitis
7. Mudah beradaptasi
8. Mampu bekerja dalam tekanan
9. Cakap berbahasa Inggris
10. Mampu mengorganisasi pekerjaan

KEBIJAKAN UMUM
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran melalui bagian kemahasiswaan berdasarkan pentingnya pembekalan softskill disamping penguasaan hardskill telah menerapkan kebijakan umum terkait kemahasiswaan sebagai berikut:
1. Panduan Tata Laku Mahasiswa Universitas Padjadjaran diatur berdasarkan SK Rektor Universitas Padjadjaran No. 217/PT06.H/)/1994 tentang Tata Tertib Mahasiswa Universitas Padjadjaran.
2. Panduan Etika Akademik dan Tata Laku Civitas Akademika diatur berdasarkan SK Rektor Universitas Padjadjaran No. 379/J06/KEP/2004 tentang Etika Akademik dan Tata Laku Civitas Akademika dalam Penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi Universitas Padjadjaran, beserta lampiran keputusan SK tersebut.
3. Pedoman Lembaga Kemahasiswaan mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.
4. Pedoman Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru mengacu pada SK DIKTI No. 38/DIKTI/KEP/2000 tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi.

KEBIJAKAN KHUSUS
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sangat mendukung dan mendorong seluruh mahasiswa mengembangkan softskill berdasarkan program dan kegiatan yang terstruktur dengan optimalisasi sumber daya yang dimiliki, termasuk bekerjasama dengan lembaga mahasiswa tingkat fakultas. Keberadaan Lembaga Mahasiswa yaitu BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Keluarga Mahasiswa Farmasi (KEMAFAR) Unpad, yang diakui dengan terbitnya SK Kepengurusan BEM dan BPM setiap periode Tahun tertentu.

Hubungan kerjasama bagian kemahasiswaan fakultas, BEM dan BPM dibutuhkan dalam menilai kebutuhan mahasiswa akan softskill yang dijabarkan dalam program kerja dan kegiatan sesuai kebutuhan tersebut. Kemahasiswan fakultas dan BEM menyusun program kerja setiap awal tahun mencakup tujuan kegiatan, target/sasaran, capaian indikator kinerja, penanggung jawab kegiatan, dan anggaran yang dibutuhkan. Dana kegiatan Kemahasiswaan bersumber dari dana PNBP ataupun bantuan hibah dari pihak donatur yang dikelola berdasarkan prinsip proporsional dan menjaga akuntabilitas. Setiap kegiatan harus mengajukan ijin kegiatan dan proposal mengikuti SOP yang berlaku, dan setelah selesai kegiatan diwajibkan menyerahkan laporan kegiatan berikut laporan pertanggungjawaban keuangan.

Kegiatan yang disusun berdasarkan Pola Pengembangan Kemahasiswaan menghasilkan semacam kurikulum softskill yang sangat diharapkan dapat diikuti oleh seluruh mahasiswa agar tercapai tujuan pendidikan yang paripurna. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut akanmendapatkan semacam transkrip softskill yang dapat digunakan sebagai bukti aktivitas dan penguasaan softskill yang diakui secara formal. Transkrip softskill ini berguna sebagai penunjang akademik, portofolio kemampuan softskill, dan kegunaan lain yang sangat berguna.

Disamping softskill, Kemahasiswaan Fakultas Farmasi merasa perlu melakukan pembinaan yang tertuang dalam 10 butir pembinaan kemahasiswaan di Fakultas Farmasi yang bertujuan mengarahkan mahasiswa untuk memiliki prestasi akademik, memiliki nilai tambah dan lulus tepat waktu. Kesepuluh butir pembinaan kemahasiswaanadalah :
1. Meluruskan niat kuliah di Fakultas Farmasi untuk mencari ilmu seluas-luasnya,berprestasi dalam bidang akademik maupun nonakademik, dan memiliki rencana lulustepat waktu.
2. Bersungguh-sungguh mengikuti kewajiban akademik melalui rencana studi yang diambil, memenuhi kontrak belajar, memotivasi diri dan menerapkan manajemen belajar yang tepat dan efektif.
3. Memanfaatkan fasilitas pembimbingan melalui dosen wali, tim bimbingan konseling dan pembimbingan tugas akhir sebagai sarana kesuksesan menyelesaikan studi tepat waktu. Berkonsultasi segera apabila mendapatkan masalah akademik maupun nonakademik.
4. Mengikuti kegiatan softskill yang tersedia, mengembangkan diri dalam organisasi kemahasiswaan serta bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
5. Tidak mendekati narkoba, menghindari pergaulan negatif dan menghindari kelompok yang membawa dampak negatif dan menghambat proses pembelajaran.
6. Menjunjung nilai kebersamaan, saling menolong dalam kebaikan, bersaing secara sehat, tidak mencontek saat ujian, dan menghindari plagiarisme.
7. Menjaga etiket pergaulan kampus, baik terhadap dosen, karyawan maupun sesama mahasiswa.
8. Menjaga etiket berpenampilan rapi dan pantas di kampus: memakai sepatu (tidak memakai sandal jepit), memakai kemeja (wajib untuk mahasiswa pria tingkat apoteker) atau kaus berkerah tidak memakai T-shirt (kaos oblong), tidak memakai celana jin sobek, tidak memakai baju gaya ABG dan rok terlalu pendek (untuk wanita). Baik pria maupun wanita membiasakan berpenampilan sebagai seorang profesional.
9. Tidak merokok di dalam lingkungan maupun gedung Fakultas Farmasi.
10. Mematuhi aturan, tata tertib dan etika lain yang dibuat spesifik untuk di ruang kelas, laboratorium, atau tempat lainnya.