Kegiatan Pelatihan dan Peningkatkan Kompetensi Calon Apoteker Akan Dirutinkan

Fakultas Farmasi akan merutinkan kegiatan pelatihan dan peningkatan kompetensi calon apoteker sesuai peminatan masing-masing calon apoteker. Seperti kegiatan yang telah dilaksankan pada tanggal 15-16 Januari 2011 yang dilaporkan oleh tim Humas Unpad.

[Unpad.ac.id, 16/01/2011] Seorang apoteker selalu dituntut untuk menjadi seorang rofesional. karena profesi apoteker tidak hanya terkait dengan bidang apotek saja, tapi mempunyai peran penting dalam teknologi dan industri farmasi dalam hal jaminan obat, makanan dan kosmetik yang aman serta bermutu. Oleh karena itu istilah apoteker sekarang ini sudah berganti menjadi istilah farmasis.

Hal tersebut disampaikan oleh Plant Manager Sanbe Farma, Widyatmoko Daru, saat mengisi acara Pelatihan Kompetensi Profesional Mahasiswa Profesi Apoteker 2010, di Auditorium D-6 Fakultas Farmasi Unpad, Jln. Raya Bandung Sumedang KM 21 Jatinangor, Sabtu (15/1). Menurut Daru, seorang farmasis pada saat ini harus memberikan pelayanan dan pelajaran kepada masyarakat untuk memilih produk farmasi yang aman.

“Sekarang ini sudah tidak ada istilah apoteker, tapi sudah berubah jadi istilah farmasis. Kalau apoteker itu lebih dekat dengan apotek. Padahal saat ini tuntutan seorang farmasis itu sudah terkait dengan banyak bidang, salah satunya adalah dalam industri dan teknologi farmasis,” tutur Daru.

Daru mengatakan bahwa seorang farmasis harus mempunyai kompetensi keahlian dan tanggung jawab moral kepada masyarakat sebagai seorang farmasis. “Seorang farmasis harus mahir dalam melakukan formulation, jaminan terhadap produk yang di buat, untuk memberikan pelayanan dan rasa aman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Terkait dengan maraknya peredaran kosmetik, obat-obatan dan makanan yang berbahaya, Daru menjelaskan bahwa fungsi utama seorang farmasis selain membuat obat-obatan dan makanan yang aman, tapi juga harus memberikan pemahaman dan pelajaran kepada masyarakat supaya dapat memilih dan memilah seperti apa obat dan makanan yang aman.

“Seorang farmasis harus kenal dengan basic ilmu pengetahuan yang utama, yaitu harus dekat dan mengetahui apa saja kebutuhan masyarakat dalam bidang farmasi. Untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, seorang farmasis harus tahu bagaimana menjelaskan obat, makanan, serta kosmetik yang baik dan aman,” jelas Daru.

Dalam acara Pelatihan Kompetensi Profesional Mahasiswa Profesi Apoteker ini, Daru memberikan arahan dan motivasi kepada para calon profesi farmasis. Daru mengatakan bahwa dalam dunia kerja, profesi farmasis memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat dalam hal industri obat dan makanan dengan kualitas yang baik.

“Seorang farmasis adalah key person untuk memastikan proses pembuatan obat dan makanan serta kosmetik terjamin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) titik awalnya dari seorang farmasis, di sana semua kita arahkan untuk menjamin barang-barang yang berhubungan dengan dunia farmasi,” tambah Daru.

Senada dengan Daru, Quality Assurance dari perusahaan farmasi Boehringer Ingelheim, Widi Mochamad mengatakan bahwa seorang farmasis mempunyai tanggung jawab moral tidak hanya dalam hal pembuatan obat dan makanan yang aman, tapi juga untuk mengawasi dan memberikan pendidikan kepada masyarakat terkait dengan obat dan makanan yang aman.

“Kalau kita dari bidang farmasi tahu bagaimana obat, makanan dan kosmetik yang aman. Tapi kan tidak semua msayarakat tahu, maka dari itu saya tekankan kepada calon farmasis tugas utama untuk pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan pemahaman dan jaminan makanan, obat, dan kosmetik yang aman,” papar Widi. (eh)*

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363 - Indonesia Telepon: (022) 7796200 Faksimile: (022) 7796200
Contact Us: farmasi@unpad.ac.id