(Bahasa) JAMU, WARISAN BUDAYA NENEK MOYANG YANG PATUT DILESTARIKAN

Akhir-akhir ini mencuat kekhawatiran dari sebagian anak bangsa akan dicaploknya beberapa warisan budaya nenek moyang untuk dipatenkan di negeri orang. Salah satu diantaranya adalah Jamu. Jamu merupakan bagian integral dari sosio budaya bangsa yang oleh karenanya menjadi tanggung jawab dan kewajiban seluruh bangsa untuk memelihara dan mengembangkannya. Sebagai sarana pemeliharaan kesehatan, jamu sebagai obat tradisional merupakan sediaan obat yang penggunaannya berdasarkan penggunaan empiris turun temurun berdasarkan pengalaman nenek moyang, dengan menggunakan bahan-bahan berasala dari alam (baca : tumbuhan).Karena menrupakan peninggalan budaya, tentulah penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional tidak berdasarkan pada kaidah ilmu kedokteran, sehingga wajar apabila dunia medis modern yang berkiblat pada pendidikan kedokteran Barat agak sukar menerima jamu sebagai bagian dari pelayanan kesehatan formal. Salah satu hal yang menjadi pertanyaan dunia medis modern terhadap jamu adalah mengenai bahan penyusun jamu yang tidak standar. Standar yang menjadi acuan masyarakat untuk obat adalah khasiat. Obat dianggap bermanfaat bila obat tersebut mempunyai keterulangan khasiat untuk kasus yang sama walau tempat dan waktu serta individu yang berbeda. Bahan baku jamu sering mengabaikan standar ini, sehingga tidak mengherankan apabila sering jamu dengan merek yang sama, produksi pabrik yang sama, tetapi mempunyai nomor batch berbeda, mempunyai khasiat yang tidak sama. Untuk itulah Pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan menetapkan standar untuk simplisia bahan baku jamu. Simplisia yang boleh digunakan sebagai bahan baku penyusun formula jamu harus memenuhi persayaratan benar, bersih, aman, dan berkhasiat. Benar, artinya bahwa simplisia yang digunakan adalah simplisia yang asli (bukan simplisia palsu atau dipalsukan). Bersih, artinya simplisia yang digunakan tidak mengandung kotoran atau cemaran mikroba dan/ atau jamur. Aman, artinya bahan baku jamu tersebut tidak bersifat toksik. Berkhasiat, artinya bahan tersebut telah diketahui dengan jelas khasiatnya dan telahy teruji secara empiris, misalnya pucuk daun jambu biji untuk obat diare. Untuk keperluan standar bahan baku jamu inilah, Pemerintah melalui Badan POM telah menyusun berbagai persyaratan berupa parameter-parameter yang menjadi acuan untuk standarisasi bahan baku jamu. Sebuah langkah kecil, namun punya arti yang besar bagi pelestarian jamu sebagai warisan budaya bangsa. Bila kita sebagai pewaris budaya tidak peduli pada warisan itu, jangan salahkan bila ada negara atau bangsa lain yang peduli dan melestarikannya melalui pendaftaran paten yang diakui sebagai hak milik budaya bangsanya.

http://blogs.unpad.ac.id/moelyono/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363 - Indonesia Telepon: (022) 7796200 Faksimile: (022) 7796200
Contact Us: farmasi@unpad.ac.id