Hasil Diskusi Panel di Acara Seminar Indonesia Pharmaceutical Expo

Jakarta-12/11/09. Acara seminar pharmaceutical yang di adakan di Jakarta International Expo pada tanggal 12 November 2009 ini dihadiri oleh panelis Anthoni Ch Sunaryo (Ketua GP Farmasi), Samsul Arifin (Presdir Kimia Farma), Dr. Subowo (Bidang Industri GP Farmasi), Kendradiadi (Ketua Umum PMMC), dan Vincent Harijanto (Ketua Bidang Bahan Baku PMMC) dengan tema umum “Isu Terkini Bisnis Farmasi di Indonesia”.Samsul Arifin yang sekaligus menjabat Ketua Majelis Pembina Kode Etik GP Farmasi Indonesia memberikan pemaparan mengenai kondisi dan regulasi industri farmasi, farmasi dan korupsi, serta peranan kode etik, dari hasil analisisnya dapat disimpulkan dibutuhkan peranan pemerintah dan GP Farmasi lebih nyata lagi dalam menciptakan iklim bisnis farmasi yang kondusif diantaranya untuk pemerintah diperlukan regulator yang Good Governance, dukungan kemandirian, dan melakukan reformasi kesehatan dan farmasi sedangkan peranan GP Farmasi perlu ditingkatkan dalam hal investasi ke hulu untuk kemandirian, dan mendorong munculnya inovasi dan kreativitas di kalangan industri serta mewujudkan tobat nasional yang menurut beliau tak lama lagi akan ada reformasi di bidang kesehatan setelah muncul kasus-kasus berbau korupsi di kalangan departemen lainnya baru-baru ini.

Dr Subowo memberikan sedikit analisa mengenai langkah-langkah strategis apa saja yang harus dilaksanakan bagi setiap industri farmasi dengan sebelumnya menganalisis dari kondisi bisnis farmasi saat ini, langkah kedepan yang harus dilakukan agar industri farmasi indonesia tetap bersaing di era globalisasi ini diantaranya diperlukan pengembangan New Drug Entity, inovasi sistem penghantaran obat (Delivery System) seperti sloe/tiime release, tablet instan, patch transdermal, nano product. Selain itu bisnis herbal masih memiliki pasar yang menggiurkan.

Dalam sesi diskusi muncul pertanyaan yang berasal dari perwakilan institusi dari Fakultas Farmasi Unpad mengenai peranan Perguruan Tinggi Farmasi (PTF) di indonesia terhadap perkembangan industri farmasi di indonesia, menurut Anthoni Ch Sunaryo, PTF belum bisa menjawab kebutuhan SDM yang siap pakai di industri farmasi, artinya belum ada korelasi yang benar antara dunia kuliah dengan dunia nyata (miss link and match), untuk itu kurikulum PTF diperlukan untuk menyesuaikan kondisi industri farmasi ke depan. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, Samsul Arifin menegaskan bahwa diperlukan spesialisasi pharmacist, artinya saat ini PTF terlalu overall karena yang diperlukan industri saat ini adalah knowledge management bukan lagi based on operational yang nantinya hanya bertindak sebagai operator, harus dididik untuk menguasai bidang ilmu farmasi yang lebih khusus sehingga memunculkan inovasi yang akan bersaing dengan negara lain, hal ini dapat dilakukan dengan setiap PTF memiliki spesialiasi atau arahan, contohnya Unpad akan ke arah herbal, ITB ke arah teknologi dan UGM ke farmasi komunitas. Namun sayangnya tidak dibahas peluang kerjasama penelitian antara PTF dan industri padahal hal inilah yang dapat mendorong industri farmasi di indonesia tidak hanya mengedepankan “me too product” tetapi memiliki inovasi dan menghasilkan produk2 yang inovator yang unggul dan bersaing secara global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363 - Indonesia Telepon: (022) 7796200 Faksimile: (022) 7796200
Contact Us: farmasi@unpad.ac.id