Ciptakan Banyak Obat Herbal Berkhasiat

Seputar Indonesia, Saturday, 13 November 2010

MENCIPTAKAN banyak produk obat herbal berkhasiat menjadi salah satu kemampuannya.Telah banyak produk yang dihasilkan.Mungkin,salah satunya yang pernah kita konsumsi.

Sosok Prof Dr Sidik, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang sangat bersahaja, rendah hati, dan ramah ini, membuat masyarakat Unpad sangat akrab dengannya, terutama orangorang Fakultas Farmasi. Bermula dari sering dicekoki jamu tradisional oleh orang tuanya sejak kecil, menjadi cikal bakal dirinya menjadi seorang peneliti herbal yang sukses.

Selain sebagai peneliti herbal yang mumpuni dengan menghasilkan banyak produk yang dipatenkan, Sidik juga dipercaya menjadi penasihat di beberapa pabrik farmasi di Indonesia. Ingin tahu lebih dalam tentang Prof Sidik, berikut petikan wawancara reporter harian Seputar Indonesia (SINDO)Masita Ulfahdengan tokoh pengembang obat asli Indonesia ini.

Sejak kapan Anda melakukan penelitian?

Saya mulai meneliti saat masih sarjana muda pada 1958 silam.Saya lulusan Farmasi dan Apoteker Institut Teknologi Bandung (ITB).Tahun 1983,saya melakukan seminar penelitian temulawak hingga dikenal sampai saat ini.

Mengapa Anda fokus pada penelitian produk herbal?

Tanaman herbal itu mempunyai manfaat yang luas dan waktu kecil saya suka dicekoki ramuan tradisional,sehingga muncul ketertarikan saya dari kecil untuk mengetahui tentang obat-obatan ketika melihat tukang obat pinggir jalan. Mereka menjual obat dari tumbuh- tumbuhan sehingga saya ingin tahu apa khasiatnya. Salah satu fokus penelitian saya adalah temulawak. Hal ini karena temulawak itu punya banyak manfaat. Di dalamnya terdapat dua kelompok senyawa yaitu kurkuminoid yang berkhasiat sebagai antioksidan dan melindungi hati dan minyak asteri.Temulawak juga merupakan tumbuhan paling lama digunakan oleh nenek moyang kita.Bahkan,di Eropa telah digunakan sejak abad ke-18.Selain itu penanamannya juga mudah. Manfaat temulawak yang lain yaitu antibakteri, menambah nafsu makan, dan sebagai whitening.

Berapa banyak penelitian dan produk yang sudah dihasilkan dari temulawak?

Saya banyak melakukan penelitian, karena mahasiswa saya juga kan banyak. Tidak semua penelitian bisa jadi produk.Beberapa penelitian saya yang dipatenkan dan menjadi produk yang dipasarkan ke masyarakat antara lain Cursil (fitofarmaka) obat penyakit liver, Kiranti (jamu tradisional, jamu telat datang bulan), Natural Platelet (sediaan herbal untuk mencegah stroke),Polyric (obat piray, grout), dan Antileukemia dari jahe merah. Obat ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Bagaimana potensi SDM Indonesia untuk pengembangan obat herbal?

Indonesia memiliki kekayaan alam yang hebat. Setiap daerah mempunyai tumbuhan khas yang berbeda-beda.Tapi sayang,kita kalah oleh negara tetangga (Malaysia). Kekayaan alam Indonesia ditambah dengan banyaknya peneliti hebat seharusnya menjadi potensi yang sangat besar. Namun, alokasi dana yang disediakan pemerintah sedikit, sehingga penelitian tidak menonjol. Jadinya, banyak profesor hanya mengajar.

Bagaimana antusias peneliti di Indonesia terhadap penelitian herbal?

Antusias peneliti amat besar, namun saat pemasaran mengalami kesulitan.Dokter tidak mau memakai produk karena dokter menginginkan single substance, sedangkan herbal adalah multisubstance. Memiliki banyak senyawa sehingga bertabrakan antara antusias peneliti dengan pemasarannya.

Bagaimana pendapat Anda tentang peneliti yang penelitiannya terbengkalai?

Peneliti yang seperti itu banyak sekali, memang sangat disayangkan. Untuk itu, saya diminta keliling Indonesia untuk memberikan ceramah bagaimana melakukan penelitian yang berorientasi produk, paten, dan market. Dari mulai empirik, yaitu jamu yang dikonsumsi masyarakat lokal,kemudian botani,kimia,uji farmakologi,bentuk sediaannya, lalu uji klinik,dan dipatenkan. Selama ini peneliti hanya melakukan penelitian sebagian, tidak hingga tahap akhir sehingga penelitiannya jadi terbengkalai.

Kenapa penelitian herbal baru terdengar gaungnya saat ini?

Dulu pemerintah tidak peduli, namun sekitar 2004 baru saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sadar bahwa obat sintetik itu diimpor dengan harga mahal. Saat itulah mulai dicanangkan penggunaan obat herbal.Sekarang muncul perhimpunan dokter herbal medik. Enam bulan lalu saya sebagai ketua dewan pakar herbalnya.Sekarang dokter baru boleh memberikan obat herbal setelah mengikuti kuliah herbal selama 50 jam. Namun, umumnya masih merasa berat.

Bagaimana supaya bisa bekerja sama dengan industri?

Kita harus menciptakan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dan bermanfaat, yang khasiatnya dirasakan masyarakat. Salah satunya obat hepatitis, diabet, kolesterol, dan stroke yang saat ini banyak dibutuhkan.

Adakah penelitian Anda yang terbaru?

Sekarang saya sedang meneliti obat herbal untuk mencegah stroke dari temulawak. Untuk prosesnya sendiri, kurkuminoid dan minyak asteri dicampur bawang putih.Saat ini sedang uji klinik.Tahun ini akan selesai dan di-launching di Jakarta pada Januari 2011. Produk saya berasal dari tumbuhan herbal yang sudah discientific,yaitu melalui percobaan laboratorium, sehingga diketahui manfaat dan keamanannya, serta tidak mengandung racun.

Penghasilan dari penelitian ini digunakan untuk apa saja?

Saya gunakan untuk membiayai anak asuh. Sebanyak 49 orang terdiri atas usia SD,SMP,SMA,bahkan ada yang mahasiswa. Mereka merupakan masyarakat yang ada di sekitar rumah. Mereka tidak mampu. Pendidikan sekarang ini mahal, makanya saya membantu mereka untuk bisa bersekolah. Selain itu,juga untuk jalan-jalan bertemu anak saya di Australia dan Prancis. Uang itu kan datang sendiri pada saya.

Idealnya berapa persentase pembagian keuntungan antara peneliti dan industri?

Selama ini saya mendapat 3% dari keuntungan penjualan. Saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk mematenkan produk saya. Karena industri yang membayarnya, tapi atas nama saya. Idealnya sih saya tidak tahu berapa, karena saya tidak berpikir ke situ. Saya tidak pernah menghitung-hitung.

Harapan Anda untuk penelitian herbal ini?

Harus diteruskan,lebih banyak lagi yang marketable dan bermanfaat bagi masyarakat. Saya senang melakukan pekerjaan ini. Maka itu, saya tidak akan pernah berhenti. Saya tidak berangan-angan apa-apa.

Apa keuntungan menjadi peneliti itu?

Dengan menjadi peneliti, saya bisa keliling dunia, melakukan ceramah ilmiah di berbagai kota,bahkan negara. Saya diundang untuk ceramah, setelah itu saya dapat uang.

Kegiatan lain selain di kampus?

Saya menjadi konsultan di beberapa pabrik farmasi. Kegiatan saya di rumah adalah mengaji.Saya melakukan pengajian bersama kelompok pengajian, setiap hari seusai dari kampus. Saya tidur pada pukul 20.00 WIB,kemudian bangun pukul 03.00 WIB. Salat tahajud, mengaji, lalu menunaikan salat subuh. Setelah itu, saya mengaji lagi. Kemudian, menyempatkan menonton televisi.Saya juga gemar membaca buku yang sifatnya agamais.

Selain itu, saya juga menjadi anggota tim HKI Diknas dengan memberikan ceramah di berbagai universitas di Indonesia sejak 2000 hingga sekarang.(*)

Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21,
Jatinangor 45363 - Indonesia
Contact Us:
farmasi@unpad.ac.id