Silabus

KODE MATA KULIAH MATA KULIAH

SKS

012A.0101 Farmakoterapi Terapan

2(2-0)

Memahami dan mengevaluasi regimentasi dosis untuk setiap kasus khusus pada farmakoterapi sistem syaraf; sistem renal dan kardiovaskular; sistem pencernaan dan pernafasan; sistem hormon dan endokrin; penyakit infeksi; kanker; patofisiologi dan pemilihan obat untuk masing-masing penyakit; dan evaluasi penggunaan beberapa obat pada beberapa kasus.
Pustaka:1.  Dipiro, J.T., Talbert, R.I. and Yen, G.C., 1997, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 3rd Ed., Appleton & Lange, Stanford.

2.  Herfindal, E.T. and Gourley, D.R., 2000, Textbook of Theurapeutics, Drug and Disease Management, 7th Ed., Lippincot & Williams, Philadelphia.

3.  Graddy, F., Lambert, H.P., Finch, R.G. and Greenwood, D., 1997, Antibiotic and Chemotherapy : Anti-infective Agents and Their Use in Therapy, 7th Ed., Churchill, Livingstone.

4.  Schwinghammer, T.L., 2002, Pharmacotherapy Casebook: A Patient Focused Approach, 5th Ed., McGraw-Hill Companies, New York.

5.  McPhee, S., Lingappa, V.R., Ganong, W.F. and Lange J.D., 2000, Pathophysiology of Disease : An Introduction to Clinical Medicine, 3rd Ed., McGraw-Hill, New York.

P12A.102

Famasi Rumah Sakit dan  Pelayanan Kefarmasian

3(3-0)

Pendahuluan; definisi dan ruang lingkup (domain); arti penting bagi profesi apoteker dan fungsi-fungsi praktek apoteker; kebutuhan pasien akan terapi obat dan tujuan dari terapi obat; problema-problema terapi obat dan penyebab-penyebabnya; koleksi data pasien (data base); evaluasi data pasien; pengembangan rencana patient care; presentasi kasus pasien (patient case presentation) atau pendokumentasian pelayanan; monitoring, evaluasi dan tindak lanjut terapi obat; kendala-kendala pelaksanaan; pemasaran/promosi pelayanan kefarmasian (marketing-promoting pharmaceutical care); kriteria kesiapan dan cara memulai praktek; standar praktek pelayanan kefarmasian dan beberapa studi kasus tentang problema terapi obat dengan penyelesaian permasalahan menggunakan pendekatan secara sistematik, seperti  SOAP (Subjective Objective Assesment Plan), PWDT (Pharmacist Workup Drug Therapy), FARM (Finding Assesment Recommendation Monitoring), LKKPTO (Lima Kunci Kebutuhan Pasien akan Terapi Obat), dll.  Sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit, organisasi rumah sakit, instalasi farmasi rumah sakit, fungsi instalasi farmasi rumah sakit, pelayanan farmasi produk, pelayanan farmasi klinis, komite farmasi dan terapi.

Pustaka:

  1. Rovers, J.P., Currie, J.D., Hagel, H.P., McDonough, R.P., and Sobotka, J.L., 2003, A Practical Guide to Pharmaceutical Care, 2nd Ed., Alpha, Washington D.C.
  2. Cipolle, R.J., Strand, L.M., and Morley, P.C., 1998, Pharmaceutical Care Practice, McGraw Hill, New York.
  3. Tindall, W.N. and Millonig, M.K., 2003, Pharmaceutical Care: Insight from Community Pharmacists, CRC Press, Boca Raton.
  4. Tietze, K.J., 2004, Clinical Skill for Pharmacists A Patient-Focused Approach, 2nd Ed., Mosby, St. Louis.
  5. Dipiro, J.T., 2005, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th Edition, McGraw Hill, New York.
  6. Desselle, S.P. and Zgarrik, D.P., 2005, Pharmacy Management Essentials for All Practice Settings, McGraw-Hill Medical Publishing Division, New York.
  7. Ritschel W.A. and Kearns, G.L., 2004, Handbook of Basic Pharmacokinetics Including Clinical Applications, 6th Ed., American Pharmaceutical Association, Washington D.C.
  8. Williams, R.L., Brater, D.C. and Mordenti, J., 1990, Rational Therapeutics A Clinical Pharmacologic Guide for Health Professional, Marcel Dekker Inc, New York.
  9. Peraturan Perundang-undangan yang Menyangkut Praktek Pelayanan Kefarmasian.

10.  Hawkins, B., 2006, Best Practice for Hospital and Health-System Pharmacy.

11.  Murdick, R. G., Sistem Informasi Manajemen Modern.  Jilid 3,  Erlangga, Jakarta.

12.  Navarro, R.,1999. Managed Care Pharmacy Practice, Aspen Publisher, Maryland.

P12A.0103

Compounding and Dispensing

2(2-0)

Pendahuluan, bahasan praktek farmasi, skrining resep (legal, farmasetik, klinis, sosial-ekonomis); cara compounding yang baik, perhitungan dalam compounding and dispensing, compounding obat steril dan non-steril; aplikasi dan saling keterkaitan berbagai bidang ilmu kefarmasian, pemrosesan resep secara profesional, penggunaan obat rasional (POR); simulasi dan praktek serta studi kasus dalam compounding and dispensing

Pustaka :

  1. Herfindal, E.T. and Gourley, D.R., 2000, Textbook of Therapeutic Drug and Disease Management, 7th Ed., W & W Pub., Philadelphia.
  2. Allen, L.V., 2002, The Art, Science and Technology of Pharmaceutical Compounding, Alpha, Washington.
  3. Swinghammer, T.I., 2002, Pharmacotherapy Casebook a Patien-Focused Approach, 5th Ed., McGraw-Hill, New York.
  4. Winfield, A.J., Richards, R.M.E., 2004, Pharmaceutical Practice, 3rd Ed., Livingstone, New York.
  5. WHO, 1996. Good Pharmacy Practice (GPP) in Community and Hospital Pharmacy Settings.
  6. 6. ASHP 2001-2002, Best Practices for Health-System Pharmacy, Position and Guidance Documents of ASHP.
  7. ASHP, 2004, AHFS Drug Information.
  8. SK Menkes No. 1027/Menkes/SKIX/2004.
P12A.104 Manajemen Farmasi

2(2-0)

Konsep dasar manajemen (batasan, filosofi, dan proses manajemen); fungsi dasar manajemen di apotek, IFRS, dan industri (perencanaan, pengorganisasian/SDM, pengarahan, pengendalian, dan pengambilan keputusan); Sistem Informasi Manajemen; Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management); manajemen apotek (studi kelayakan dan budgeting, inventory control system, keuangan, pemasaran, peraturan perundangan yang terkait dengan apotek, manajemen pelayanan dan informasi obat di apotek, dan strategi pengembangan); manajemen farmasi rumah sakit (perencanaan, pengadaan perbekalan farmasi, penyimpanan, pengemasan, distribusi, dan pengendalian); manajemen industri farmasi (manajemen persediaan, QA, manajemen industri, pengembangan produk, regulasi, dan informasi produk); dan manajemen laboratorium klinis.

Pustaka :

  1. Campbell, D. and Fowler, A., 2001, Benchmarking: Concepts and Framework, Pharm Manage, 17.
  2. ……., 1996, Effective Pharmacy Management a Comprehensive Presentation of Practical Technique for Pharmacist, 8 th Ed., NARD, Virginia.
  3. Hicks, W.E, 1994, Practice Standar of ASHP 1994-1995, American Society of Hospital Pharmacist Inc.
  4. Stoner, J.A.F., R.E. Freeman, and D.R. Gilbert Jr, 1995, Management, Prentice Hall, New Jersey.
  5. MSH and WHO (Management  Sciences for Health and Word Health Organization), 1997, Managing Drug Supply. 2nd Ed.,  Kumarian Press, West Harfford, CT.
  6. Peraturan Perundang-undangan tentang Kesehatan Kefarmasian.
  7. Tootelian, D.H. and Gaedeka, R.M., 1993, Essentials of Pharmacy Management, Mosby-Yess Yook Inc., St. Louis.
  8. ………, 2007, Quality Assurance of Pharmaceuticals 2nd Ed., Geneve
  9. Desselle, S.P. and Zgarrik, D.P., 2005, Pharmacy Management Essentials for All Practice Settings, McGraw-Hill Medical Publishing Division, New York.
P12A.0105 Biofarmasetika Terapan dan Farmakokinetika Klinik

2(2-0)

Biofarmasetika terapan  mempelajari pengembangan produk berdasarkan korelasi in vitro dan invivo; sistem klasifikasi biofarmasetika (BCS); Bioavability and Bioequivalency (BABE). Farmakokinetika klinik mempelajari tentang bioavabilitas obat, pengaruh makanan terhadap obat, hubungan antara kinetika dengan aliran darah ke hati, farmakokinetik pada neonatus, anak, kehamilan orang tua, PDM dan prediksi pendosisan.

Pustaka :

  1. Sinko, P.J.,2006, Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 5 th Ed., Lippincott William & Wilkins, Philadelphia.
  2. Ritschel W.A and Kearns, G.L., 2004, Handbook of Basic Pharmacokinetics Including Clinical Application, 6 th Ed., American Pharmaceutical Association, Washington DC.
  3. Shargel, L., Wu-Pong, S., and Yu, A.B.C., 2005, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, 5 th Ed., McGraw Hill, Boston.
  4. Dressman, J. and Kramer, J. 2005, Pharmaceutical Dissolution Testing, Taylor  & Francis , Boca Paton.
  5. Dressman, J.B. and Lennernas, H., 2000, Oral Drug Absorption Prediction and Assesment, Marcel Dekker Inc., New York.
P12A.0106 Komunikasi dan Konseling

2(2-0)

Pendahuluan,; pengertian, fungsi dan tujuan komunikasi; komunikasi efektif, etika berkomunikasi; pengertian konseling serta fungsi dan tujuannya, topik konseling dan kasus-kasus dalam komunikasi dan konseling; faktor-faktor yang menghambat komunikasi dan konseling, sistem informasi obat, simulasi dan sosiodrama konseling obat.

Pustaka :

  1. Graeff, J.A., Elder, J.P., Booth, E.M.,1993, Communicator for Health and Behavior Change, J-B Inc. Publ., NewYork.
  2. Rantucci, M.J.,1997, Pharmacist Talking with Patient Counselling, W&W Publ., New York.
  3. Meldrum, H., 1994, Interpersonal Communication in Pharmaceutical CarePharm. Prod., Press, New York.
  4. ………, 1994, Guide to Good Prescribing, WHO, Geneva.
  5. Brown, T.R., and Smith, M.C., 1986. Handbook of Instutional Pharmacy Practice, Wiliams and Wilkins, L.A.
  6. Undang-undang RI No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
  7. Watanabe., A.S., and Corner C.S., 1984. Principle of Drug Information Services, 2nd Ed., Drug Intellegence Publ. Inc., Illinois.
P12A.107 Farmasi Industri

2(2-0)

Permasalahan yang dihadapi industri farmasi mulai dari pengadaan bahan awal, proses pembuatan sediaan farmasi (pengadaan bahan awal, proses pembuatan sediaan farmasi, sampai sediaan lolos edar, mencakup CPOB, yang meliputi ketentuan umum personalia, bangunan, peralatan, sanitasi, QC, inspeksi diri, penanganan terhadap hasil pengamatan), keluhan dan penarikan kembali obat yang beredar, dokumentasi, regulasi, validasi, kualifikasi, perencanaan, produksi dan pengendalian persediaan serta penanganan limbah industri farmasi.

Pustaka :

  1. ………, 2000, Asean GMP Guidelines, 4th Ed., Jakarta.
  2. Balai POM RI, 2001, Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta.
  3. Dep.Kes RI, 2001, Petunjuk Operasional Cara Pembuatan Obat yang Baik, Dep.Kes RI., Jakarta.
  4. Lachman, L., Lieberman, H.A. and Kanig, J.L.,1986, The Theory and Practice on Industrial Pharmacy, Lea & Febiger, Philadelphia.
  5. Berry, I.R. and Nash, R.A., 1993, Pharmaceutical Process Validation, 2nd Ed., Marcel Dekker Inc., New York.
P12A.108 Pemastian Mutu

2(2-0)

Konsep mutu, pemastian mutu, manajemen mutu, pelatihan personil, dokumentasi, pengambilan contoh (sampling), studi stabilitas, penyelidikan kegagalan/penyimpangan batch,  inspeksi diri/self inspection, penanganan keluhan, obat kembalian dan penarikan obat jadi, penilaian pemasok/vendor rating & control of starting and packaging materials, kalibrasi, kualifikasi dan validasi, pengendalian perubahan, quality tools, good distribution practice, good storage practice,  good laboratory practice.

Pustaka :

  1. Jassen, H.J.L., 1998, Quality Assurance and Quality Control in The Pharmaceutical Production Plant, 12th Advance Course in Pharmaceutical Science, Meppel, Netherlands.
  2. ………, 2007, Quality Assurance of Pharmaceutical, Volume 2, 2nd Ed.
P12A.0109 Ilmu Kesehatan Masyarakat

2(2-0)

Konsep-konsep kesehatan : public health, preventive health dan public health pharmacy. Konsep sakit dan beban sakit : public responsibility on health, riset dalam kesehatan masyarakat dan farmasi masyarakat, ideologi dan kesehatan masyarakat. Profesi-profesi dalam bidang kesehatan. Obat dan bisnis. Penyalahgunaan obat dalam konteks kesehatan masyarakat. Kebijaksanaan kesehatan di Indonesia.

Pustaka :

  1. Indan Entjang, 2000, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Citra Aditya Bakti, 2000.
  2. Soekidjo, N., 1997, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.
  3. Azrul, Azwar, 1999, Pengantar Epidemiologi, Binarupa Aksara, Jakarta.
  4. Slamet Riyadi, AL., 1982, Public Health Publication : Ilmu Kesehatan Masyarakat, Usaha Nasional, Surabaya.
  5. The Institute for The Future, Health and Health Care, 2010, The Forecast, The Challenge, Jossey-Bass, San Fransisco.
P12A.0110 Fitoterapi Terapan

2(2-0)

Definisi etnobotani dan etnofarmakologi, pengaruhnya terhadap pengembangan untuk industri, seleksi, garis besar uji farmakologi dan toksisitas, pengembangan formulasi dan teknik produksi, prinsip kontrol kualitas, garis besar uji klinik obat tradisional dan fitoterapi.

Pustaka :

  1. Depkes RI, 1992, Fitofarmaka, DepKes RI, Jakarta.
  2. WHO, 1995. Assesment of Herbal Medicine, WHO, Geneva Mills.

3. Principles and  Practice of Phytotherapy, Churchill Livingstone, London.

P12A.201 PKPA Apotek

4 (0-4)

Praktek kerja profesi di apotek berupa pelaksanaan langsung di apotek yang meliputi organisasi apotek dan pembelajaran berdasarkan pengalaman kerja yang mencakup aspek administrasi  dan perundang-undangan, aspek manajerial, aspek pelayanan kefarmasian dan aspek bisnis.

Pustaka :

  1. Depkes RI, 2002, Permenkes RI No. 1332/Menkes/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotek, Depkes RI, Jakarta.
  2. Depkes RI , 2004, Permenkes RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Depkes RI, Jakarta.
  3. APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No: 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker.
  4. Suryono, S., 2001, Manajemen Apotek, Airlangga University Press., Surabaya
P12A.202 PKPA Industri Farmasi

4(0-4)

Praktek kerja profesi di industri farmasi atau yang sejenis terutama untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang industri farmasi, penerapan CPOB, proses pembuatan sediaan farmasi, sarana dan prasarana dalam industri farmasi, dan fungsi kefarmasian dalam industri farmasi.

Pustaka :

  1. 1. APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No: 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker.
  2. ……, 2000, Asean GMP Guidelines, 4th Ed., Jakarta.
  3. Badan POM, 2001, Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta.
  4. Badan POM, 2001, Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan POM RI, Jakarta.
P12A.203 PKPA Rumah Sakit

4(0-4)

Praktek kerja profesi di rumah sakit terutama pelaksanaan langsung di instalasi farmasi rumah sakit, untuk mengetahui organisasi rumah sakit dan farmasi rumah sakit, tentang pengelolaan perbekalan farmasi (perencanaan dan pemilihannya, pengadaan, distribusi); penggunaan obat; produksi di IFRS; CSSD; laboratorium internal; sistem manajemen informasi obat; sistem pengendalian dan infeksi nosokomial; dan praktek farmasi klinik

Pustaka :

  1. Depkes RI, 2004, Permenkes RI No. 1042/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, Depkes RI, Jakarta.
  2. 2. APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No. 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker.
  3. Hassan, W.E., 1986, Hospital Pharmacy, 5th Ed., Lea and Febiger, Philadelphia.
  4. Quick, 1997, Managing Drug Supply, Humani Press, New York.
  5. Santoso, B., 1999, Manajemen Obat Rumah Sakit, MMF, Yogyakarta.
P12A.204 PKPA Pemerintahan

4(0-4)

Praktek kerja profesi di lembaga pemerintahan terutama untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang peran apoteker dalam penentuan kebijakan obat, baik nasional maupun regional, distribusi dan ketersediaan obat sampai sarana pelayanan kesehatan yang terendah.Pustaka :

APTFI, 2008, Surat Keputusan Majelis APTFI No: 002/APTFI/MA/2008.

P12A.205 Ujian Profesi Apoteker

2(0-2)